Pasar Negara Berkembang Paling Rentan Menghadapi Risiko Resesi Zona Euro
Inflasi tinggi di kawasan euro dipicu oleh pemutusan energi dari Rusia yang meningkatkan krisis energi di negara-negara kawasan ini.
Penulis:
Nur Febriana Trinugraheni
Editor:
Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
TRIBUNNEWS.COM, BERLIN - Perang di Ukraina telah memukul nilai mata uang Euro. Meningkatnya risiko resesi di zona Eropa juga menjadi ancaman baru bagi mata uang Euro.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, investor lebih bearish dengan mata uang lain seperti forint Hongaria, zloty Polandia dan koruna Ceko daripada mata uang negara berkembang lainnya, kecuali rubel Rusia dan lira Turki.
Perusahaan-perusahaan jasa keuangan seperti Goldman Sachs Group Inc, Fidelity International, dan InTouch Capital Markets mengungkapkan jika nilai Euro melemah, Eropa Timur akan menjadi kawasan yang paling menderita dibandingkan pasar negara berkembang lainnya.
Baca juga: Konsumen Zona Euro Bersiap Menghadapi Resesi dan Inflasi Tinggi
Forint Hongaria, zloty Polandia dan koruna Ceko, merupakan tiga mata uang yang paling rentan terhadap turunnya permintaan dari zona euro, 19 negara yang menggunakan mata uang euro, yang menyumbang sekitar 60 persen dari ekspor ketiga negara tersebut.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada bulan Februari lalu, perdagangan di Hongaria, Polandia dan Ceko mengalami penurunan, yang sejalan dengan melemahnya nilai euro.
"Kami berhati-hati dan negatif pada mata uang Euro. (Wilayah ini) adalah blok paling rentan di pasar negara berkembang di ruang mata uang,” kata manajer uang di Fidelity International yang berbasis di London, Paul Greer.
Sementara Dana Moneter Internasional (IMF) pada bulan Juli lalu memperingatkan ekonomi dunia akan segera berada di puncak resesi, dan prospek ekonomi di kawasan euro terlihat sangat mengerikan.
Inflasi tinggi di kawasan euro dipicu oleh pemutusan energi dari Rusia yang meningkatkan krisis energi di negara-negara kawasan ini.
Ahli strategi di Goldman Sachs mengungkapkan mata uang di negara-negara Eropa Timur kemungkinan akan mengalami penurunan terbesar di pasar negara berkembang jika nilai euro turun di bawah paritas dolar AS, mengingat negara-negara di zona euro adalah pengimpor besar mereka.
"Eropa jauh lebih rentan pada tahap ini, jadi masuk akal untuk mengasumsikan bahwa mata uang tengah dan timur akan berkinerja buruk, terutama jika euro-dolar jatuh," kata analis mata uang di InTouch Capital Markets, Piotr Matys.
Baca juga: Raksasa Energi Uniper di Ambang Kebangkrutan, Jerman Suntikan Dana Talangan 15,3 Miliar Euro
Penurunan dua digit
Mata uang di kawasan Eropa Timur termasuk yang paling terpukul oleh dampak dari invasi Rusia ke Ukraina pada Februari lalu.
Sejak perang dimulai, forint Hongaria turun 17 persen terhadap dolar AS, dan 8,2 persen terhadap euro. Sementara zloty Polandia jatuh 12 persen terhadap dolar AS, sedangkan koruna Ceko merosot 9,6 persen terhadap dolar AS.
Hubungan mata uang negara berkembang dengan euro, menggarisbawahi potensi dampak lebih lanjut dari melemahnya nilai euro.
Untuk saat ini, pengetatan kebijakan moneter di Hongaria telah membantu menstabilkan nilai forint, setelah jatuh ke rekor terendahnya terhadap euro di bulan Juli lalu.