Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun Bisnis

Panen Tebu Capai 104 Ton Per Hektare, Keuntungan Petani Berhasil Meningkat hingga 271 persen

Nugroho Christijanto menyebut berkat program Makmur panen tebu meningkat dari 60 ton menjadi 104 ton per hektar atau mengalami peningkatan 73 persen.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Panen Tebu Capai 104 Ton Per Hektare, Keuntungan Petani Berhasil Meningkat hingga 271 persen
Kementan
Ilustrasi petani tebu. PT Pupuk Indonesia (Persero), melalui anak usahanya PT Pupuk Kujang Cikampek dan PT PG Rajawali II meningkatkan produktivitas tanaman tebu melalui program Makmur di Desa Pasirbungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang Jawa Barat. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, SUBANG - PT Pupuk Indonesia (Persero), melalui anak usahanya PT Pupuk Kujang Cikampek dan PT PG Rajawali II meningkatkan produktivitas tanaman tebu melalui program Makmur di Desa Pasirbungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang Jawa Barat. 

Wakil Direktur Utama Pupuk Indonesia Nugroho Christijanto menyebut berkat program Makmur panen tebu meningkat dari 60 ton menjadi 104 ton per hektar atau mengalami peningkatan 73 persen.

Dengan keberhasilan ini, Nugroho berharap petani tebu lainnya dapat bergabung dalam program Makmur sehingga bisa mendapatkan pendampingan dan meningkatkan produktivitas tanamannya.

Baca juga: Cerita Cahyorini, Petani Tebu Magetan yang Naik Kelas Lewat Pendanaan Usaha Mikro Kecil

“Melalui program Makmur, Pupuk Indonesia mendukung peningkatan produktivitas tanaman tebu dengan komitmen untuk memastikan ketersediaan pupuk yang dibutuhkan serta turut mengawal budidaya tebu. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan swasembada gula,” ungkap Nugroho dikutip Kamis (18/8/2022).

Lebih lanjut, Nugroho mengungkapkan bahwa keuntungan para petani tebu pun mengalami peningkatan 271 persen yaitu dari Rp 7,06 juta per hektar menjadi Rp 26,2 juta per hektar. 

“Hal ini tidak lepas dari peran semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam ekosistem Makmur. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung program Makmur ini sehingga dapat berjalan baik,” tutur Nugroho. 

Berita Rekomendasi

Lebih lanjut Nugroho menyebutkan bahwa hingga Juli 2022, program Makmur telah terlaksana di atas lahan seluas 184.305 hektar atau 73 persen dari target 250 ribu hektar pada akhir tahun 2022, dengan jumlah petani binaan sebanyak 94.431 orang.

Baca juga: Pupuk Indonesia Amankan Kebutuhan Pasokan Bahan Baku NPK Hingga Akhir 2022

Dari total lahan seluas 184.305 hektar ini, lahan varian tebu pada program Makmur sudah terimplementasi seluas 45.532 hektar atau 41 persen dari target yang ditetapkan yakni 110.000 hektar dengan melibatkan sebanyak 8.686 orang petani. 

Sementara sisanya untuk komoditas padi, jagung, kopi, kelapa sawit, hortikultura, dan sebagainya. 

Sementara itu, Direktur Utama Holding Pangan ID FOOD sekaligus Ketua PMO Program Makmur Frans Marganda Tambunan mengatakan BUMN Pangan dan Pupuk bersinergi untuk mendukung swasembada gula nasional melalui ekosistem pelaku usaha pertanian.

“Program Makmur yang dikelola ID FOOD melalui anak usaha PT PG Rajawali II juga telah menghasilkan produksi tebu sebesar 228 Ribu Ton di luasan lahan 3.156,45 Hektare dan jumlah Petani sebanyak 430 orang,”Jelas Frans pada kesempatan panen tebu di wilayah Jawa Barat. 

Frans melanjutkan dari beberapa komoditas pangan melalui program Makmur, komoditas tebu menjadi prioritas guna menggenjot kontribusi gula Nasional. 

“Sinergi melalui program Makmur ini wujud terciptanya ekosistem pangan, atasi krisis pangan,” ujar Frans.

Baca juga: Lampaui Target Kinerja 2021, Pupuk Indonesia Raup Laba Rp 5,13 triliun

Makmur merupakan program yang diluncurkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada Agustus 2021. 

Program dengan makna “Mari Kita Majukan Usaha Rakyat” ini memberikan pengawasan dan pendampingan intensif kepada petani. 

Mulai dari pengelolaan budidaya tanaman, digital farming, hingga mekanisasi pertanian. 

Selain itu, disiapkan juga akses permodalan, perlindungan risiko pertanian, serta adanya kepastian pembelian dengan harga kompetitif melalui offtaker.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas