Tribun Bisnis

Pedagang Pasar Kesulitan Modal di Tengah Kenaikan Inflasi

Mujiburrohman meminta pemerintah memerhatikan para pedagang pasar, yang harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar akibat kenaikan inflasi. 

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Pedagang Pasar Kesulitan Modal di Tengah Kenaikan Inflasi
Tribunnews/Irwan Rismawan
Pedagang melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (22/7/2021). Tekanan inflasi menyebabkan naiknya berbagai harga barang, sehingga membuat banyak pihak cemas, khususnya para pedagang pasar tradisional. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tekanan inflasi menyebabkan naiknya berbagai harga barang, sehingga membuat banyak pihak cemas, khususnya para pedagang pasar tradisional.

Karena itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Mujiburrohman meminta pemerintah memerhatikan para pedagang pasar, yang harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar akibat kenaikan inflasi. 

"Saat ini, para pedagang pasar juga mengalami kesulitan modal. Kondisi masyarakat belum pulih benar, sehingga daya beli masyarakat juga berkurang, dan hasil berjualan saat ini hanya habis untuk makan dan kadang juga mengurangi modal,” ujar dia dalam keterangannya, Kamis (29/9/2022).

Baca juga: Kurangi Sikap Konsumtif Terhadap Produk Impor Dinilai Bisa Cegah Ledakan Inflasi

Lebih lanjut, Mujiburrohman memperkirakan tidak stabilnya-harga kebutuhan pokok dan barang yang memiliki perputaran cepat di pasar, akan terus berlangsung seiring dengan situasi ekonomi yang belum pasti.

“Sebelum desas-desus BBM saja, sudah banyak barang yang harganya naik, yang ramai itu harga telur naik sampai ke Rp 31 ribu per kg, padahal biasanya hanya Rp 25 ribu per kg. Itu saja sudah banyak yang protes karena harganya terlalu mahal,” katanya.

Selain itu, dia mengungkapkan, angka pengunjung pasar juga akan semakin menurun apabila dampak inflasi tidak ditangani dengan baik. 

Diketahui, Bank Indonesia (BI) sebelumnya memperkirakan bahwa inflasi pada September 2022 ini akan naik sebesar 0,77 persen. 

"Kenaikan inflasi ini disumbang oleh kenaikan harga BBM, telur, beras, tarif angkutan, dan rokok. Tekanan inflasi tersebut berpotensi dapat menyebabkan turunnya daya beli masyakarat," tutur Mujiburrohman.

Baca juga: Inflasi Tinggi, Ekonom Prediksi Suku Bunga Acuan Bisa Mencapai 5 Persen di Akhir Tahun

Sementara, Kepala Bidang Organisasi APPSI Don Muzakir menambahkan, kenaikan harga barang memiliki efek ganda yang cepat. 

“Pedagang pasar dan asongan yang merasakan dampaknya kalau harga barang melonjak naik. Tidak hanya barang kebutuhan pokok, tapi kalau cukai akan naik dengan tinggi lagi, maka para pedagang akan kesusahan untuk berjualan, padahal modalnya saja sudah besar sekali,” pungkasnya.

Wiki Terkait

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas