Tribun Bisnis

OPEC+ Kurangi Produksi Besar-besaran Sejak 2020 agar Harga Minyak Tidak Jatuh

OPEC+ sepakat mengurangi produksi besar besaran untuk menjaga harga minyak tetap tinggi. 

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Choirul Arifin
zoom-in OPEC+ Kurangi Produksi Besar-besaran Sejak 2020 agar Harga Minyak Tidak Jatuh
SURYA/PURWANTO
Antrean pengendara mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Araya, Jl Panji Suroso, Kota Malang, Selasa (30/8/2022). OPEC+ akhirnya setuju mengurangi produksi besar besaran untuk menjaga harga minyak tetap tinggi.  

Laporan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - OPEC+ akhirnya setuju mengurangi produksi besar besaran untuk menjaga harga minyak tetap tinggi. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, sontak hal ini tentu saja membuat Amerika Serikat (AS) memberikan teguran. 

"Padahal situasi dan kondisi inflasi sedang tinggi, setidaknya penurunan harga energi akan membuat beban rumah tangga menjadi jauh lebih ringan. Namun, hal tersebut tampaknya masih jauh dari keinginan," ujar dia melalui risetnya, Kamis (6/10/2022). 

Langkah pengurangan produksi tersebut dipertahankan oleh para Menteri dari kelompok produsen, yang di mana diperlukan untuk melindungi industri minyak dan ekonomi mereka sendiri dari risiko perlambatan ekonomi global. 

"Amerika segera bereaksi terkait hal tersebut. OPEC+ sepakat pada hari Rabu kemarin untuk mengurangi produksinya sebesar 2 juta barel per hari mulai bulan November mendatang," kata Nico. 

Pengurangan produksi tersebut merupakanlah pemotongan terbesar sejak tahun 2020, yang di mana hal ini tentu saja berpotensi untuk menambah tekanan dari beban energi terhadap ekonomi dunia saat ini. 

Baca juga: Produksi OPEC+ Akan Dipangkas Pekan Ini, Harga Minyak Dunia Bakal Melesat Lagi

"Lantas bagaimana reaksi dari Amerika? Biden tampaknya kecewa pemirsa dengan apa yang dilakukan oleh OPEC+ untuk memangkas produksi. Sementara, ekonomi global tengah menghadapi dampak yang kurang baik sejak awal tahun akibat invasi," tutur Nico. 

Menurutnya, para pejabat di Amerika pun berusaha untuk membuat panggilan terhadpa negara-negara sahabat mereka untuk mencegah pengurangan produksi. 

Baca juga: Harga Minyak Terkoreksi di Tengah Penguatan Dolar AS

Presiden AS Joe Biden sendiri dikabarkan telah lama berkampanye untuk meningkatkan produksi agar mampu menjaga prospek inflasi. 

Kemudian, Penasihat keamanan nasional White House, Jake Sullivan bersama dengan Brian Deese, Direktur Dewan Ekonomi Nasional mengatakan bahwa Amerika akan melepaskan 10 juta barel minyak lagi, dari cadangan minyak strategi yang mereka miliki pada bulan November mendatang. 

Baca juga: Harga Minyak Terkoreksi di Tengah Penguatan Dolar AS

Nico menambahkan, selain pemangkasan produksi, OPEC+ juga memperpanjang perjanjian kerjasamanya hingga akhir tahun 2023. 

"Menteri Energi Arab Saudi mengatakan, pembatasan pasokan akan tetap berlaku hingga akhir tahun depan, kecuali situasi dan kondisi pasar berubah. Menteri Negara Nigeria, Timiplre Slyva mengatakan bahwa, ada motivasi lebih terkait dengan penurunan produksi tersebut, bahwa OPEC masih menginginkan harga minyak di kisaran 90 dolar AS," pungkasnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas