Tribun Bisnis

Resesi Ekonomi

Inflasi Eropa Tertinggi Sepanjang Masa: Berikan Tekanan ke Bank Sentral, Risiko Resesi Kian Menyebar

Kenaikkan tingkat suku bunga Bank Sentral Eropa akan memberikan tekanan yang lain terhadap Jerman.

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Inflasi Eropa Tertinggi Sepanjang Masa: Berikan Tekanan ke Bank Sentral, Risiko Resesi Kian Menyebar
Dok Tribunnews.com
Ilustrasi lonjakan laju inflasi. Inflasi Eropa kemarin telah naik dari sebelumnya 10 persen menjadi 10,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Inflasi di zona Eropa kemarin telah naik dari sebelumnya 10 persen menjadi 10,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, inflasi ini di atas dari proyeksinya dan para konsesus lainnya, sehingga akan memberikan tekanan kepada Bank Sentral Eropa untuk segera bertindak untuk melakukan sesuatu.

"Pada akhirnya, sebuah data inflasi terbaru telah mengejutkan Eropa pemirsa. Lho memang ada apa ya? Ternyata eh ternyata, inflasi Eropa yang keluar kemarin, telah naik ke level tertinggi sepanjang masa," ujar dia melalui risetnya, Selasa (1/11/2022).

Nico menjelaskan, output kuartal III 2022 juga telah melambat menjadi 0,2 persen dari 3 bulan sebelumnya, di mana krisis energi telah mendorong kenaikkan inflasi yang memberikan tekanan kepada bisnis dan rumah tangga.

Baca juga: Inflasi Zona Euro Melonjak ke Rekor Baru, Mencapai 10,7 Persen

"Risiko resesi kian menyebar. Oleh sebab itu, kami melihat bahwa Bank Sentral akan bahu membahu untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi jangka menengah, dengan mengurangi tekanan terhadap inflasi," katanya.

Di sisi lain, sejauh ini perekonomian Jerman juga mulai pulih dengan mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik dari 3 bulan sebelumnya.

Namun, Nico menilai kenaikkan tingkat suku bunga Bank Sentral Eropa akan memberikan tekanan yang lain terhadap Jerman.

Kemudian, Spanyol dan Prancis juga mencatatkan perlambatan ekonomi pada kuartal III 2022 kemarin, sehingga naiknya inflasi akan memberikan tekanan terhadap kuartal IV 2022 tahun ini terhadap perekonomian Eropa.

Karena itu, resesi ada kemungkinan akan terjadi sepanjang musim dingin ke depannya, dengan angka inflasi didominasi oleh biaya energi dan makanan.

Sebelumnya, Italia pada hari Jumat telah mengungkapkan kenaikkan tertinggi sepanjang masa, sehingga hal ini semakin memberikan tekanan terhadap harga energi dan makanan yang dimana merupakan salah satu pemicu tingginya inflasi.

"Para pejabat di Bank Sentral Eropa memberikan komentar bahwa fokus mereka akan selalu tetap sama, dan tidak berubah yaitu fokus terhadap pengendalian inflasi. Di tengah kenaikkan inflasi kemarin yang merupakan tertinggi sepanjang masa, potensi resesi semakin menjadi mungkin pemirsa," tutur Nico.

Dengan demikian, ada kemungkinan Bank Sentral Eropa akan kembali menaikkan tingkat suku bunganya sebanyak 50 hingga 75 basis poin pada pertemuan di akhir tahun nanti.

"Kebetulan Bank Sentral Eropa tidak ada arisan pada bulan November ini pemirsa, sehingga tentu saja hal ini akan semakin memberikan ruang kepada inflasi untuk bergerak bebas. Kepala Bank Sentral Belanda, Klaas Knot mengatakan bahwa dirinya mendukung kenaikkan tingkat suku bunga tersebut," pungkasnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas