Tribun Bisnis

Virus Corona

Valuasi Saham Perbankan China Longsor Akibat Kebijakan Lockdown Covid-19

Valuasi saham Industrial & Commercial Bank of China [ICBC] menyusut mendekati rekor terendah sekitar 0,4 dari nilai buku mereka di Hongkong.

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Valuasi Saham Perbankan China Longsor Akibat Kebijakan Lockdown Covid-19
Ledger Insights
Gedung Bank Industrial & Commercial Bank of China [ICBC] di China. Valuasi saham ICBC dilaporkan tengah menyusut mendekati rekor terendah sekitar 0,4 dari nilai buku mereka di Hongkong. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com  Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – Industri perbankan China kini di ambang kebangkrutan akibat penurunan valuasi saham secara drastis hingga mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Selama beberapa tiga bulan terakhir valuasi saham dari empat layanan pemberi pinjaman terbesar di negara tirai bambu ini, termasuk Industrial & Commercial Bank of China dilaporkan tengah menyusut mendekati rekor terendah sekitar 0,4 dari nilai buku mereka di Hongkong.

Kondisi serupa juga dialami oleh ICBC dan CCB, dimana premi atau keuntungan dari dua layanan keuangan ini menunjukkan kemerosotan dengan rata-rata mencapai 26 persen.

Situasi ini mirip dengan yang pernah terjadi pada sektor perbankan AS selama krisis keuangan 2008.

Saat itu JPMorgan Chase & Co serta Bank of America mengalami kehancuran valuasi hingga memicu timbulnya depresiasi pada sejumlah perbankan di Amerika.

Melansir dari Bussiness Time, amblasnya valuasi saham terjadi sebagai imbas dari kebijakan pembatasan wilayah yang diterapkan pemerintah pusat.

Meski diklaim dapat membantu mengurangi laju pertumbuhan Covid- 19, namun pembatasan wilayah atau lockdown ini membuat sektor bisnis terhenti.

Baca juga: Bursa Saham Hong Kong Naik 2 Persen Menyusul Melemahnya Data Perdagangan China

Kondisi tersebut kian diperparah dengan adanya kebangkrutan di bidang properti, hingga ekonomi terbesar kedua di dunia itu mengalami perlambatan dan hanya mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,3 persen pada 2022, melesat jauh dari proyeksi pemerintah sekitar yang sebelumnya telah menetapkan pertumbuhan 5,5 persen.

Tekanan inilah yang membuat pendapatan  para perbankan perbankan di China mengalami krisis valusi, lantaran para debitur kesulitan untuk melunasi utangnya hingga memicu munculnya ancaman utang macet.

Baca juga: Ekspor dan Impor China Menyusut di Oktober 2022 Imbas Penerapan Lockdown Covid-19

“Meskipun kita belum menyaksikan tanda-tanda penurunan struktural dalam ekonomi domestik, kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan dalam beberapa tahun ke depan di tengah resesi global,” kata Shen Meng, direktur di bank investasi Chanson & yang berbasis di Beijing. Co.

Belum diketahui kapan penurunan valuasi saham perbankan di China akan berhenti.

Baca juga: Mata Uang Singapura dan Thailand Bisa Jadi Korban Kemerosotan Yuan China

Sejumlah analis memprediksi bahwa kondisi ini akan berlanjut mengingat selama kuartal ketiga sektor pinjaman di perbankan terus menunjukan pelemahan.

“Kami belum melihat titik balik untuk saham bank, tapi kami optimis akan adanya sinyal pemulihan sektor properti dan ekonomi China" tutup analis perbankan DBS Group, Lu Manyi.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas