Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun Bisnis

Potensi Hijab Lokal Jadi Topik Bahasan di World Economic Forum 2022

Ghufron Mustaqim membeberkan, industri hijab dalam negeri dapat menciptakan snowball effect untuk memajukan perekonomian nasional

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Potensi Hijab Lokal Jadi Topik Bahasan di World Economic Forum 2022
ist
Transaksi hijab di Indonesia mencapai 1 miliar lembar per tahun atau setara dengan lebih dari Rp 91 triliun. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Choirul Arifin

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Artikel yang mengupas tentang besarnya potensi ekonomi nasional dari industri hijab menjadi bahasan menarik di artikel berbasis riset yang dirilis di World Economic Forum (WEF).

Riset yang dibuat oleh Evermos dan sempat trending di Twitter tersebut mendapati data bahwa transaksi hijab di Indonesia mencapai 1 miliar lembar per tahun atau setara dengan lebih dari Rp 91 triliun.

Angka yang sungguh luar biasa besar untuk menunjukkan perputaran ekonomi di masyarakat terutama di bisnis fesyen muslim.

Baca juga: Menteri Sandiaga Optimalkan Potensi Transaksi Belanja Produk Hijab Capai Rp91 Triliun

Namun, fakta lainnya, hanya 25 persen produk hijab ini yang berasal dari produksi lokal. Dengan kata lain, potensi besar ini belum dioptimalkan oleh pemain lokal.

Mengutip data demografi dari Kementerian Dalam Negeri, sebanyak 86,9 persen dari sekitar 273 juta jiwa penduduk Indonesia beragama islam.

Saat membahas artikel yang sama di dalam unggahannya Raymond Chin, CEO & Founder Ternakuang, mengatakan, market ekonomi syariah di Indonesia merupakan sleeping giant. "Potensinya besar sekali, tapi belum dimaksimalkan oleh para pebisnis pelaku UMKM di Indonesia," ujarnya.

Berita Rekomendasi

Evermos, yang mempublikasikan artikel yang ramai dibicarakan tersebut merupakan social commerce yang berfokus pada produk-produk halal dan memiliki visi untuk memudahkan wirausaha sekaligus mengembangkan brand dan UKM lokal.

Melihat besarnya potensi perkembangan ekonomi melalui para pelaku UKM, Evermos berharap lebih banyak masyarakat yang mendukung produk-produk lokal, salah satunya hijab.

Dalam sesi wawancara, Ghufron Mustaqim, CEO & Co-Founder Evermos menyampaikan, kontribusi social commerce terhadap ekonomi Indonesia mencapai 12 miliar dolar AS.

Baca juga: Inspiratif, Kisah Mahasiswi Jual Ribuan Hijab hingga ke Singapura dan Malaysia lewat E-Commerce

Sebagai social commerce terkemuka saat ini pihaknya ingin senantiasa memperbesar kontribusi pada perekonomian nasional dengan membantu menjualkan produk-produk halal brand lokal melalui jaringan reseller di Evermos.

Untuk mengangkat potensi hijab lokal ke pasar lebih luas, platform social commerce ini menjalin kerja sama dengan produser ternama Hanung Bramantyo dan baru saja meluncurkan sebuah film dokumenter pendek. Film ini mengangkat kisah-kisah para pelaku industri hijab di dalam negeri.

Para pebisnis, pelaku UMKM, perancang busana, pemotong kain, penjahit, hingga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, memberikan sudut pandangnya pada film berdurasi kurang dari 25 menit tersebut. 

Ghufron Mustaqim membeberkan, industri hijab dalam negeri dapat menciptakan snowball effect untuk memajukan perekonomian nasional.

Selain potensi hijab lokal secara makro, Artikel Hijab Evermos juga menggalinya lebih dalam secara mikro. Proses pembuatan selembar hijab terkesan sederhana, namun sebetulnya melalui beberapa tahap yang teliti dan melibatkan banyak elemen masyarakat.

ZM Zaskia Mecca merupakan salah satu brand hijab dan pakaian muslim di Indonesia yang dapat menjual 70.000 potong setiap bulan dengan kisaran harga Rp100.000 rupiah per produk.

Baca juga: Indonesia Sharia Economic Festival Promosikan Batik sebagai Warisan Budaya Bangsa

Brand ini memproduksi barang-barangnya di dalam negeri dengan menggunakan kombinasi antara cloud manufacturing dan fabrikasi konvensional.

"Kita beli bahan ke pabrik, kemudian di-print atau dicelup warnanya, setelah itu akan dikirim ke pusat-pusat produksinya. Untuk pusat produksi ini, kita ada beberapa tempat dan juga mitra penjahit," ujar Haykal Kamil, CEO ZM Zaskia Mecca.

Salah satu tempat pusat produksi tersebut adalah perusahaan yang didirikan oleh Yus Ansari, pemilik brand Ansania. Yus menciptakan sistem produksi yang efisien secara ongkos, produktif dengan tingkat produksi mencapai 150.000 pakaian per hari, fleksibel dalam mengikuti perubahan permintaan pasar, serta mampu menjaga kualitas terbaik.

Ia membagi proses pengerjaan hijab menjadi dua: pekerjaan dengan intensitas tinggi namun mudah dan pekerjaan yang memerlukan keterampilan tinggi. Pekerjaan mudah dibagikan kepada komunitas penjahit konvensional, sementara pekerjaan yang sulit dilakukan di pabrik.

Sistem ini kemudian dapat diakses dan dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan lainnya dari jarak jauh, seperti ZM Zaskia Mecca dengan kantor sejauh 150 km dari perusahaan Yus, dan dikenal dengan istilah cloud manufacturing.

"Kami membangun gudang di wilayah perkampungan, lalu pekerjaannya kami sebar (outsource) kepada ribuan masyarakat sekitar," ujar Yus.

Setelah diproses di pabrik lebih lanjut, hijab yang sudah jadi dikirimkan ke perusahaan-perusahaan ritel. Dengan cara ini, setiap Rp37.000 yang dihasilkan per satu potong produk dapat berdampak untuk masyarakat perkampungan.

Mengacu pada data di artikel WEF, belanja modest fashion atau fesyen islami seperti hijab telah tumbuh 5,7 persen pada tahun 2021, dari USD 279 miliar menjadi USD 295 miliar. untuk tahun ini diperkirakan akan meningkat hingga 6 persen, yaitu menjadi USD 313 miliar.

Baca juga: Indonesia Sharia Economic Festival Promosikan Batik sebagai Warisan Budaya Bangsa

Menurut Menparekraf Sandiaga Uno, proyeksi ini membuktikan besarnya pasar hijab dunia. "Karena itu, peluang usaha ini harus dioptimalkan untuk membuka lapangan kerja dan peluang usaha," ujar Sandiaga Uno.

Ghufron Mustaqim menambahkan, potensi ini baru dari satu dari sekian banyak jenis produk yang ditujukan untuk pasar muslim. "Masih ada beberapa potensi lainnya seperti travel, kosmetik, makanan, kesehatan, dan peralatan ibadah," ungkapnya.

"Masih ada 9 juta penduduk Indonesia yang belum memiliki pekerjaan. Apabila ada lebih banyak produk yang dapat kita buat di dalam negeri, akan semakin banyak lapangan pekerjaan dan peluang usaha yang dapat kita ciptakan," ujar Ghufron Mustaqim.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas