Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Petani Sawit Sebut Program B35 Hanya Berikan Untung Besar Kepada Pengusaha Biodiesel

Pemerintah kini sedang menjalankan program pencampuran 35 persen biodiesel dengan 65 persen bahan bakar minyak jenis Solar, atau disebut B35.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Petani Sawit Sebut Program B35 Hanya Berikan Untung Besar Kepada Pengusaha Biodiesel
Tribunnews/Jeprima
Ilustrasi: Petugas melakukan pengisian bahan bakar jenis biosolar di SPBU Pertamina, Kuningan, Jakarta Selatan. Pemerintah kini sedang menjalankan program pencampuran 35 persen biodiesel dengan 65 persen bahan bakar minyak jenis Solar, atau disebut B35. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah kini sedang menjalankan program pencampuran 35 persen biodiesel dengan 65 persen bahan bakar minyak jenis Solar, atau disebut B35.

Program ini digadang-gadang bakal berkontribusi dalam menekan volume impor minyak domestik. Sehingga devisa negara akan lebih hemat.

Ditambah lagi, program B35 ini juga bagian dari komitmen Indonesia dalam mengatasi dampak perubahan iklim. Yakni meminimalisir penggunaan bahan bakar berbasis fosil.

Baca juga: Industri Otomotif Dukung Implementasi Biodiesel B35, Gaikindo: Bisa Tekan Impor BBM

Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto menilai, program B35 hanya untuk mementingkan dan memberikan untung kepada industri biodiesel.

Ia melihat adanya masalah subsidi yang besar untuk pelaku industri biodiesel.

Diketahui, bahwa subsidi tersebut diperoleh dari pungutan ekspor kelapa sawit.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun yang perlu dilihat dalam konteks ini adalah besarnya pungutan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap industri biodiesel berdampak pada tergerusnya harga komoditas kelapa sawit di tingkat petani kecil.

Sebab pungutan atas harga CPO (Crude Palm Oil), mempengaruhi harga CPO lokal yang menjadi referensi untuk merumuskan harga pembelian tandan buah segar (TBS) petani.

"Bagaimanapun klaim yang dilakukan oleh pemerintah terutama dalam konteks penghematan devisa negara namun korbannya adalah petani kelapa sawit," papar Mansuetus dalam sebuah diskusi di Kawasan Cikini, Jakarta, Selasa (7/2/2023).

Dalam catatan SPKS, penggunaan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada 2021, mayoritas dipergunakan untuk pembayaran selisih harga biodiesel mencapai Rp51 triliun atau 97,09 persen dari total realisasi belanja BPDPKS.

Baca juga: Minyak Goreng Bekas Berpotensi Hasilkan Biodiesel Rendah Emisi

Sementara sisanya digunakan untuk kegiatan beban penyaluran dana riset hingga beban penyaluran dana peremajaan kebun kelapa sawit.

SPKS juga telah membuat studi terkait siapa-siapa saja yang mendapatkan untung dari bisnis biodiesel ini.

Dalam hasil laporan studi SPKS mencatat, bahwa keuntungan industri biodiesel sangatlah besar.

Ada beberapa perusahaan yang dipungut kecil namun mereka menikmati untung dari subsidi.

Baca juga: Penggunaan Biodiesel Diklaim Bisa Hemat Devisa Rp 176 Triliun

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas