Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Analis Prediksi Pelemahan IHSG Hanya Berlangsung Jangka Pendek

Penurunan kinerja pasar saham dan obligasi ini dikarenakan terkena sentimen pejabat The Fed (Bank Sentral AS) yang tetap hawkish.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Yanuar R Yovanda
zoom-in Analis Prediksi Pelemahan IHSG Hanya Berlangsung Jangka Pendek
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan melintas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Selama sepekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat alami kinerja negatif dengan melemah minus 0,45 persen dan Indeks LQ45 turun tipis minus 0,04 persen.

Dosen sekaligus praktisi pasar modal Lanjar Nafi mengatakan, sektor teknologi dan energi menjadi kontributor utama pelemahan.

Selain IHSG, pasar obligasi juga tercatat alami kinerja yang negatif selama sepekan dimana imbal hasil obligasi naik 11,9 basis poin untuk denominasi rupiah dan naik 28,7 basis poin untuk denominasi dolar Amerika Serikat (AS).

Baca juga: IHSG Sepekan Ini Minus 0,45 Persen karena Terseret Pelemahan Bursa Global 

"Penurunan kinerja pasar saham dan obligasi ini dikarenakan terkena sentimen pejabat The Fed (Bank Sentral AS) yang tetap hawkish pada tingkat suku bunga serta menurunkan spekulasi adanya pemangkasan di 2023," ujar Lanjar dalam risetnya kepada Tribunnews.com, Minggu (12/2/2023).

Dia menjelaskan, perkiraan pasar terhadap terminal rate suku atau puncak suku bunga AS bergeser dari 5 persen menjadi 6 persen.

Sementara itu, sektor energi secara khusus didorong penurunan harga batu bara yang relatif sangat signifikan menjadi katalisator negatif utama.

Rekomendasi Untuk Anda

Di mana harga batu bara selama sepekan mengalami penurunan lebih dari 7 persen melanjutkan penurunan signifikan di pekan sebelumnya.

Meskipun demikian sentimen ini dinilai Lanjar masih bersifat jangka pendek karena data ekonomi Indonesia yang relatif lebih kuat.

"Di antaranya, laporan PDB Indonesia yang tumbuh tetap pada level 5 persen, bahkan di atas ekspektasi pasar. Kemudian, cadangan devisa Indonesia tercatat lebih tinggi dan Indeks Kepercayaan Konsumen tetap optimis," pungkasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas