Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Akhir Pekan, Penguatan Rupiah Diprediksi Berlanjut

Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berlanjut pada hari ini, Jumat (14/7/2023).

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Sanusi
zoom-in Akhir Pekan, Penguatan Rupiah Diprediksi Berlanjut
Tribunnews/JEPRIMA
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Masagung Money Changer, Jakarta Pusat. Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berlanjut pada hari ini, Jumat (14/7/2023). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan berlanjut pada hari ini, Jumat (14/7/2023).

Rupiah ditutup naik 109 poin ke Rp 14.966 per dolar AS pada Kamis (13/7/2023).

Analis pasar uang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah dapat bergerak menguat hingga Rp 14.910.

Baca juga: Rupiah Kamis Ini Ditutup Menguat 109 Poin ke Rp 14.965 Per Dolar AS

"Untuk perdagangan Jumat, mata uang rupiah fluktuatif. Namun, ditutup menguat di rentang Rp 14.910 per dolar AS hingga Rp 15.010 per dolar AS," ujar dia melalui risetnya, Jumat (14/7/2023).

Dia menjelaskan sentimen eksternal yang memengaruhi rupiah adalah pelemahan dolar AS terdorong lebih rendah lagi di perdagangan kemarin.

Didorong oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan mendorong taruhan pada Federal Reserve atau Bank Sentral AS yang kurang agresif.

Rekomendasi Untuk Anda

Ibrahim menilai, meskipun pembacaan Indeks Harga Konsumen lebih lemah, inflasi masih tetap di atas target tahunan Fed sebesar 2 persen.

Hal ini kemungkinan akan menarik lebih banyak kenaikan suku bunga oleh bank sentral dalam waktu dekat, dengan pasar secara luas memperkirakan kenaikan setidaknya 25 basis poin dalam pertemuan akhir Juli.

Sejumlah pejabat Fed juga menandai lebih banyak kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, memperingatkan inflasi inti masih tetap tinggi, dan menimbulkan ancaman yang mengakar.

Pembacaan IHK inti bulan Juni lebih rendah dari yang diperkirakan, sebesar 4,8 persen, tetapi masih relatif tinggi, dan jauh di atas angka utama, yang tumbuh 3 persen.

Baca juga: Perkasa, Rupiah Melesat Te,mbus di Bawah Rp 15.000 Per Dolar AS Kamis Pagi Ini

"The Fed awal tahun ini menandai tingkat puncak setidaknya 50 bps lebih dari 5,25 persen saat ini, meskipun data tenaga kerja yang lemah dan pembacaan CPI yang lemah mungkin melihat pergeseran dalam sikap ini selama pertemuan bank Juli," tutur Ibrahim.

Di sisi lain sentimen lainnya yang memengaruhi rupiah, yakni pelemahan ekonomi China pasca pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Sejak dibukanya lockdown di China pada awal tahun, banyak negara termasuk Indonesia sebagai mitra dagang mengharapkan perekonomian Negeri Tirai Bambu ini segera pulih untuk mendorong pertumbuhan global.

Namun, apa yang diharapkan tidak sesuai, justru kondisinya malah berkebalikan, di mana ekonomi China hingga saat ini masih lesu.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas