Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Begini Nasib Program Jokowi Soal Hilirisasi Usai Anjloknya Harga Nikel Global

Indonesia tengah mendorong produk-produk hilirisasi nikel yang perlahan masuk ke tahapan yang lebih tinggi.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Begini Nasib Program Jokowi Soal Hilirisasi Usai Anjloknya Harga Nikel Global
Tribunnews/HO/Biro Pers Setpres/Laily Rachev
Presiden Joko Widodo saat melakukan groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022). Proyek bernilai sebesar USD 2,1 juta atau setara dengan Rp 30 trilliun tersebut merupakan kerja sama antara PT Bukit Asam, PT Pertamina, dan investor asal Amerika Serikat, Air Products. Proyek ini akan mengubah 6 juta ton batu bara menjadi 1,4 juta ton DME setiap tahunnya. Menurut Presiden Jokowi, hilirisasi batu bara menjadi DME akan bisa menekan impor elpiji yang mencapai kisaran Rp 80 triliun. Tribunnews/HO/Biro Pers Setpres/Laily Rachev 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar komoditas nikel global saat ini disebut-sebut tengah mengalami kelebihan pasokan.

Hal ini memberikan dampak terhadap harga nikel yang turun lebih dari 40 persen jika dibandingkan dari tahun lalu.

Diketahui, komoditas mineral tersebut diperdagangkan di kisaran angka 16.000 dolar Amerika Serikat per ton, mendekati level harga terendah sejak 2021.

Baca juga: Soal Hilirisasi Nikel Ugal-ugalan, Cak Imin Terima Tantangan Luhut

Lantas, anjloknya harga nikel dapat mempengaruhi program hilirisasi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ?

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengungkapkan, faktor turunnya harga nikel global utamanya karena besarnya jumlah pasokan dibandingkan dengan kebutuhan.

Namun, anjloknya harga nikel tidak langsung serta merta berdampak signifikan terhadap program hilirisasi pemerintah.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal ini dikarenakan Indonesia tengah mendorong produk-produk hilirisasi nikel yang perlahan masuk ke tahapan yang lebih tinggi.

Diketahui, Presiden Joko Widodo telah melarang ekspor nikel mentah pada awal 2020 lalu, di mana biji nikel harus dismelterkan di Indonesia.

Dan kini, hilirisasi produk nikel sukses dikembangkan meskipun masih berada di tingkat pertama dan kedua.

Fahmy melanjutkan, jika Indonesia saat ini telah sukses membangun produk hilirisasi nikel hingga ke tahap barang jadi, tentunya penurunan harga nikel tak berpengaruh.

Salah satu contoh barang jadi dari proses hilirisasi nikel adalah baterai kendaraan listrik.

"Saya kira ini karena kelebihan pasokan, sementara demand atau permintaannya itu menurun," ungkap Fahmy saat dihubungi Tribunnews, Kamis (25/1/2024).

"Kalau nikel di Indonesia dihilirisasi melalui produk-produk turunan, dan kalau bisa sampai ke produk baterai listrik, sesungguhnya itu enggak bakal terpengaruh anjloknya harga nikel," sambungnya.

Fahmy juga mengatakan, para investor asing melihat program hilirisasi nikel di Indonesia masih cukup menarik. Khususnya investasi yang berkaitan dengan pengembangan baterai kendaraan listrik.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Atas