Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Tidak Cukup Satu, Penurunan Emisi di Sektor Transportasi Perlu Banyak Solusi

Dalam mengatasi penurunan emisi di sektor transportasi, Eniya mengatakan pemerintah sudah mulai mengimplementasikan program Biodiesel

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Tidak Cukup Satu, Penurunan Emisi di Sektor Transportasi Perlu Banyak Solusi
Endrapta Pramudhiaz
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani di Hotel Sultan, Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2024). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Endrapta Pramudhiaz

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memandang tidak mungkin mengatasi penurunan emisi di sektor transportasi hanya melalui satu solusi.

Dalam menurunkan emisi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani meyakini hal tersebut.

"Tidak ada satu solusi untuk kita menurunkan emisi sektor tranpsotasi," katanya dalam acara The 5th Indonesia - Japan Automobile Dialogue di Hotel Sultan, Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2024).

Baca juga: Pakai Mesin Diesel, Hyundai Wanti-wanti Palisade XRT Tak Boleh Minum Biodiesel

Dalam mengatasi penurunan emisi di sektor transportasi, Eniya mengatakan pemerintah sudah mulai mengimplementasikan program Biodiesel 35 persen (B35) sejak Februari 2023.

Pada tahun ini, program tersebut rencananya akan ditingkatkan menjadi 40 persen. Uji coba untuk di sektor otomotif sudah rampung, sedangkan di sektor non otomotif masih berjalan hingga Desember mendatang.

"Selanjutnya kita juga ada keinginan, tetapi masih diskusi, apakah selanjutnya B50 juga bisa diterapkan atau dengan kombinasi lain," ujar Eniya.

Rekomendasi Untuk Anda

Wanita yang baru beberapa bulan menjabat sebagai Dirjen EBTKE itu kemudian mengatakan, ada juga program bietanol yang sedang dilakukan.

Ia memandang ini menjadi satu kekuatan besar Indonesia karena negara ini memiliki sumber dayanya untuk industri bioetanol.

"Saat ini kita punya regulasi untuk etanol ada etanol 5 dan di 2029 bisa mulai juga dengan etanol 10," tutur Eniya.

"Tetapi saat ini industri etanol yang ada untuk mensuplai bahan baku masih sangat sedikit, sehingga industri bioetanol ini harus ditumbuhkan di Indoensia," lanjutnya.

Baca juga: Pemerintah Sebut Mandatori Biodiesel Sukses Hemat Devisa Negara Rp120 Triliun di 2023

Berikutnya, ia menjelaskan pemerintah sedang mendiskusikan untuk memanfaatkan biofuel jenis avtur yang bisa digunakan di sektor industri penerbangan.

Biofuel jenis avtur atau bioavtur ini dikatakan Eniya bisa dihasilkan bahan bakunya dari turunan kelapa sawit dan limbah kelapa sawit.

"Lalu kita punya resource seperti sorgum, sagu, itu juga bisa menjadi satu pemicu bahwa Indonesia bisa memimpin industri biofuel," jelas Eniya.

Bioavtur yang merupakan campuran avtur dan minyak kelapa sawit sebesar 2,4 persen ini disebut sedang dikaji kapan mulai bisa diterapkan.

Baca juga: Faisal Basri Kritisi Perbedaan Harga CPO Untuk Biodiesel dan Minyak Goreng

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Atas