Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

10 Tahun Setia Pakai Biogas Kotoran Sapi, Warga Umbulharjo Sleman Bebas dari Ketergantungan Pada LPG

Sudah 10 tahun lamanya keluarga Dewi Astuti membuat biogas dari kotoran sapi untuk menghemat pengeluaran rumah tangga dalam membeli LPG.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Choirul Arifin
zoom-in 10 Tahun Setia Pakai Biogas Kotoran Sapi, Warga Umbulharjo Sleman Bebas dari Ketergantungan Pada LPG
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Naryo Sutrisno, ayah Dewi Astuti, sedang membersihkan kotoran sapi di kandang samping rumahnya di Balong Wetan Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta. 

Ia mencontohkan, dirinya telah menggunakan biogas kotoran sapi lebih dari satu dekade ini. Selama itu pula, ia mengaku jarang sekali menuai kendala.

Jika prosedur produksi dipenuhi, meksipun hanya memiliki dua ekor sapi, nyatanya gas metana mengalir lancar setiap hari. "Lebih dari 10 tahun saya pakai biogas, instalasinya belum pernah ganti. Cuma pernah ganti kompor saja," kata dia.

Baginya, penggunaan biogas memiliki banyak keuntungan.

Selain menghemat pengeluaran tiap bulan untuk membeli gas elpiji, sisa kotoran sapi yang sudah terolah juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Pupuk tersebut bisa langsung dimanfaatkan dalam keadaan basah maupun kering. "Sisa kotoran itu saya pakai buat pupuk rumput, tanaman, ternyata tanamannya bagus juga," ucap dia.

Diketahui, praktik baik pemanfaatan biogas untuk memasak bagi warga Kalurahan Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta, ini telah dilakukan sejak lama.

Bukan hanya di Padukuhan Balong Wetan, namun juga tersebar di sejumlah padukuhan lainnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Kepala Seksi Kesejahteraan (Ulu-ulu) Kalurahan Umbulharjo, Sugeng Sunarto mengungkapkan, pengolahan kotoran sapi menjadi biogas di wilayahnya telah dilakukan oleh warga di beberapa padukuhan.

Selain Balong Wetan, juga dilakukan sebagian warga di Gondang, Plosorejo, Karanggeneng dan Padukuhan Gambretan. Warga memanfaatkan gas alami tersebut untuk kebutuhan memasak di dapur.

Namun belakangan, seiring jumlah ternak berkurang dan intalasi rusak,sebagian warga tidak melanjutkan kegiatan pengolahan ini.

"Dulu banyak, sekarang sudah banyak yang tidak fungsi," katanya.

Laporan reporter Tribun Jogja, Alga 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Atas