Moody's dan S&P Pangkas Peringkat Kredit Israel, Berpotensi Terus Merosot Hingga Jadi 'Junk'
Moody's kembali menurunkan peringkat utang Israel sebanyak dua tingkat menjadi Baa1 dari A2 dan menjadi pemangkasan kedua kalinya dalam setahun.
Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Choirul Arifin
Perang yang kian memanas, membuat Israel perlahan mengalami kerugian finansial. Diantaranya pengeluaran pemerintah dan defisit anggaran yang melonjak,
Tercatat selama beberapa bulan terakhir, anggaran militer Israel mengalami pembengkakan sebesar 582 miliar shekel atau sekitar 155 miliar dolar AS untuk digunakan membeli perlengkapan dan alat tempur serta membiayai perekrutan tentara cadangan yang akan dikirim ke Gaza.
Baca juga: Yordania, Irak, Lebanon Tutup Wilayah Udara Menyusul Serangan Rudal Iran ke Israel
Dampaknya perekonomian Israel kini berada di ambang kehancuran, sejak Oktober hingga Juli kemarin defisit atau pengeluaran negara membengkak mencapai 8,1 persen jadi 8,5 miliar shekel atau naik 2,2 miliar dolar AS dari produk domestik bruto (PDB).
Angka tersebut melesat jauh dari target defisit Israel di tahun 2024 yang hanya dipatok 6,6 persen.
Imbas pembengkakan anggaran perang, banyak pihak menilai negara Zionis ini akan jatuh ke jurang inflasi lantaran pengeluaran pemerintah dan defisit anggaran melonjak, sementara sektor-sektor seperti pariwisata, pertanian, dan konstruksi merosot.
Baca juga: Roket Iran Hantam Tepat di Luar Markas Besar Mossad di Israel
Kondisi tersebut yang mendorong S&P mempertahankan prospek Israel pada tingkat "negatif", mencerminkan ketidakpastian lebih lanjut terkait situasi keamanan di kawasan tersebut.
Sementara ahli ekonomi Moody’s memperkirakan pemangkasan kredit akan berlanjut seiring melambatnya pertumbuhan PDB riil Israel yang hanya tumbuh sebesar 0,5 persen tahun ini.
"Dalam jangka panjang, kami melihat bahwa ekonomi Israel akan melemah lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya," kata Moody's.