Dampak Penutupan Selat Hormuz Terhadap Industri Petrokimia Hingga Otomotif serta Pasokan Bahan Baku
Rencana Iran menutup Selat Hormuz dalam perangnya melawan Israel dan Amerika Serikat akan berdampak serius pada rantai logistik perdagangan dunia.
Editor: Choirul Arifin
Para pelaku industri petrokimia tetap siaga jika konflik ini berkepanjangan. Harga minyak akan melonjak jauh lebih tinggi apabila konflik masih terjadi menjelang musim dingin. Sebab, saat musim dingin, kebutuhan minyak untuk industri akan berebut dengan kebutuhan untuk energi yang semakin tinggi.
Baca juga: Khamenei: Kami Tak Terima Serangan Dari Siapa Pun, Itu logika Bangsa Iran
Dampak yang lebih signifikan terhadap harga minyak maupun biaya logistik juga akan terasa jika Iran sudah menutup Selat Hormuz.
"Sejauh ini dampaknya belum segawat yang kita khawatirkan. Mudah-mudahan ada titik temu untuk segera cooling down. Kalau tidak, harus waspada, karena kalau (harga minyak) lewat psikologis US$ 80, biasanya ke US$ 100 itu cepat banget," ujar Fajar.
Jika Selat Hormuz ditutup, maka logistik minyak dan bahan baku akan memutar untuk berlayar ke rute lain. Biaya angkut (freight cost) pun diestimasikan bisa terkerek naik dari US$ 60 menjadi US$ 100 per ton.
Pada saat yang sama, pelaku industri petrokimia mesti mencari pasokan baru dengan mengandalkan China dan AS.
Fajar optimistis, pelaku industri petrokimia dan plastik akan bisa bertahan dalam situasi ini. Meski akan ada penyesuaian dari sisi harga maupun inovasi produk, terutama untuk kemasan di segmen barang konsumsi makanan dan minuman.
Pemerintah Perlu Bergerak Cepat
Fajar menegaskan, pemerintah mesti bergerak cepat dan merumuskan kebijakan yang tepat dari sisi ekspor-impor produk, dengan memperhatikan supply-demand atau kebutuhan di dalam negeri.
"Kami sudah pengalaman, pernah (harga minyak) sampai US$ 120. Tapi semua harus tinggi level kewaspadaannya, baik dari pelaku usaha maupun pemerintah," tegas Fajar.
Daniel turut menyoroti kondisi pasar dan ekonomi di dalam negeri. Ketika ada kenaikan harga bahan baku dan biaya produksi, pelaku industri elektronik tidak bisa otomatis mengerek naik harga jual produknya.
Sebab, pelaku usaha juga mesti mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat yang sedang tertekan.
Alhasil, situasi ini akan semakin memangkas margin pelaku usaha di industri elektronik.
"Dalam kondisi pasar atau permintaan yang tidak baik saat ini, tidak mungkin menaikkan harga jual. Artinya produsen sementara waktu akan menyerap akibat kenaikan harga bahan baku tersebut," terang Daniel.
Industri komponen otomotif juga terimpit pelemahan daya beli di dalam negeri. Rachmad pun membeberkan strategi pelaku industri komponen otomotif untuk tetap adaptif adalah dengan memacu diversifikasi pasar ekspor.
"Kalau produksi dan market domestic terus turun karena daya beli turun, untuk memenuhi kapasitas pabrik yang ada kami berusaha ekspor. Kami coba perbanyak ekspor ke negara-negara non tradisional seperti Amerika Latin dan Afrika," tandas Rachmad.
Laporan Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Sumber: Kontan
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.