BFI Finance Perkuat Pembiayaan Sektor Produktif
Industri printing masih menjadi kontributor terbesar dalam lini pembiayaan mesin yang dikelola BFI Finance
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perusahaan pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar 32 persen (year-to-date) yang didorong naiknya permintaan pembiayaan di sektor produktif, khususnya industri percetakan (printing) dan ekonomi kreatif.
Machinery Head BFI Finance Amelia Tjahjadi menjelaskan, sektor printing masih menjadi kontributor terbesar dalam lini pembiayaan mesin yang dikelola perusahaan.
“Dari piutang yang kami kelola hingga pertengahan 2025, pembiayaan mesin paling banyak berasal dari industri percetakan. Selain perusahaan berbadan hukum seperti CV, UD, atau PT, kami juga mendukung debitur perorangan yang ingin memperluas usaha,” ujar Amelia di sela Pameran All Print Indonesia 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta belum lama ini.
BFI Finance juga menggarap bisnis pembiayaan untuk berbagai lini industri lain seperti manufaktur, woodworking, alat kesehatan, IT equipment, food and beverage, serta mesin pendukung seperti genset dan welding dengan nilai pembiayaan bervariasi, mulai dari Rp100 juta hingga di atas Rp1 miliar.
Partisipasi BFI Finance di ajang All Print Indonesia 2025 menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam memperkuat dukungan terhadap sektor produktif nasional.
Perusahaan juga menjadi satu-satunya perusahaan multifinance yang ikut serta dalam pameran berskala internasional tersebut.
Corporate Business Head BFI Finance, Stanly Darisang, menegaskan bahwa industri percetakan nasional memiliki potensi besar untuk tumbuh di tengah gelombang inovasi dan transformasi digital.
“Industri percetakan di Indonesia terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tren pasar. Kami melihat peluang pertumbuhan yang kuat seiring meningkatnya kebutuhan investasi pada mesin produksi modern,” tutur Stanly.
Lebih lanjut, Stanly menambahkan bahwa kehadiran BFI Finance dalam pameran tersebut juga dimaksudkan untuk memperkuat kemitraan strategis dengan para pelaku industri dan memahami lebih dalam dynamika kebutuhan pasar.
“Kami ingin mendengar langsung dari pelaku usaha tentang tantangan dan peluang di sektor ini, agar dapat merancang produk pembiayaan yang lebih relevan, adaptif, dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Baca juga: Skor Kredit Bagus Memudahkan Masyarakat Raih Pembiayaan Bank
Dengan pengalaman lebih dari empat dekade di industri pembiayaan, BFI Finance menempatkan pembiayaan mesin sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan bisnisnya.
Dukungan terhadap sektor printing dinilai sejalan dengan visi perusahaan untuk berperan aktif dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional, terutama di tengah transformasi digital yang kian cepat.
Industri percetakan sendiri menunjukkan prospek cerah. Berdasarkan laporan Worldwide Print & Graphic Magz, nilai pasar printing di Indonesia diperkirakan mencapai 13,51 miliar dolar AS atau sekitar Rp192 triliun pada 2025.
Baca juga: Diskon Cicilan Warnai Perayaan Hari Pelanggan 2025 di Industri Pembiayaan
Angka ini mencerminkan besarnya kontribusi industri cetak terhadap perekonomian nasional—mulai dari percetakan komersial, kemasan, hingga layanan digital printing.
Riset Ken Research juga mencatat nilai pasar printer dan mesin fotokopi di Indonesia mencapai sekitar 180 juta dolar AS pada 2023, dengan permintaan tinggi dari sektor pendidikan, perkantoran, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca tanpa iklan