Transformasi: Jalan Sehat Menuju Keberlanjutan Industri Keuangan
AI mampu mempercepat validasi dokumen, menganalisis pola anomali, serta mengidentifikasi indikasi penipuan secara otomatis.
Penulis:
Sanusi
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan
- Ekonomi digital Asia Tenggara pada 2024 diperkirakan mencapai US$263 miliar
-
Pemanfaatan kecerdasan buatan mulai mengubah wajah layanan keuangan di Indonesia
- Industri keuangan dan asuransi menghadapi tantangan di tengah kepercayaan yang rendah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Disrupsi digital kini menjadi keniscayaan di hampir seluruh sektor ekonomi.
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia menyaksikan dan mengalami percepatan besar-besaran pada sektor e-commerce, transportasi digital, InsureTech, investasi dan keuangan.
Menurut data laporan e-Conomy SEA 2024 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, ekonomi digital Asia Tenggara (termasuk Indonesia) pada 2024 diperkirakan mencapai US$263 miliar, gross merchandise value (GMV) naik 15 persen YoY.
“Pertumbuhan itu sebagian besar didorong oleh sektor e-commerce dengan Gross Merchandise Value (GMV) senilai US$65 miliar atau sekitar Rp1.082 triliun,” tulis laporan tersebut.
Baca juga: Premi Produk Asuransi Perjalanan Jasindo Kini Hanya Bayar Rp 5 Ribu, Dapat Perlindungan Medis
Angka ini menegaskan betapa cepatnya masyarakat beralih ke layanan digital dan menuntut sektor keuangan serta asuransi untuk ikut beradaptasi dalam menyediakan produk dan akses yang mudah dan sesuai perilaku baru konsumen.
Perubahan besar ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang kepercayaan dan tata kelola (akuntabilitas).
Industri keuangan dan asuransi menghadapi tantangan di tengah kepercayaan yang rendah dituntut pula untuk menyeimbangkan antara inovasi dengan kepatuhan terhadap regulasi yang semakin ketat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui berbagai kebijakan terkini seperti POJK 11/2023 dan POJK 23/2023 menegaskan pentingnya governance, manajemen risiko, dan transparansi pelaporan.
Regulasi semacam ini menjadi “rem dan pedal gas” sekaligus mendorong percepatan transformasi sambil memastikan industri tumbuh dengan prinsip akuntabilitas.
"OJK telah menerbitkan POJK 11/2023. Ditargetkan selesai tahun 2026 untuk asuransi. OJK berharap dengan langkah ini, industri asuransi syariah akan mengalami pertumbuhan yang lebih baik dan penguatan posisi di pasar,” ujar Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara dalam gelaran Ijtima Sanawi 2025 di Jakarta beberapa Waktu lalu.
Di sisi lain, kepercayaan publik kini menjadi aset yang paling berharga. Dalam era di mana setiap pengalaman pelanggan dapat tersebar luas di media sosial, reputasi keuangan perusahaan ditentukan bukan hanya oleh laporan tahunan, tetapi juga oleh pengalaman pengguna yang nyata dan konsisten.
Big Data: Menakar Risiko, Menyusun Strategi
Transformasi digital di sektor keuangan kini banyak bergantung pada big data analytics.
Baca tanpa iklan