Bahlil Heran Masih Ada yang Ragukan Data Pertumbuhan Ekonomi RI Dirilis BPS: Masa Percaya Sosmed?
Bahlil melihat masyarakat Indonesia kerap meragukan hal-hal yang menunjukkan keberhasilan pemerintah.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:Kementerian ESDM mampu berkontribusi sebesar 15,5 persen pada total pendapatan negara.Bahlil menyinggung data pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS banyak diprotes.Data yang dikeluarkan oleh BPS dianggap sebagai anomali.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti pihak yang meragukan data pertumbuhan ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Bahlil awalnya mengungkap bagaimana Kementerian ESDM mampu berkontribusi sebesar 15,5 persen pada total pendapatan negara.
"PNBP kita itu hampir 10 persen dari total pendapatan negara, minus pembiayaan. Belum PPH dan PPN di sektor pertambangan, minyak dan gas, dan lain-lain," kata Bahlil saat memberi sambutan dalam acara penandatanganan MoU bersama BPS di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (14/10/2025).
Dalam menyajikan data tersebut, Bahlil menyebut Kementerian ESDM membutuhkan BPS. Sebab, kini badan tersebut yang dipercaya banyak orang.
Baca juga: Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi Sumut, Bobby Nasution Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
"Cuman memang dalam rangka penyajiannya, ini harus dibantu oleh BPS karena sekarang BPS ini adalah badan yang harus dipercaya oleh semua orang. Masa percaya sosmed (sosial media) daripada BPS? Kan enggak bisa," uajr Bahlil.
Ia kemudian menyinggung data pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS banyak diprotes.
Ketua Umum Partai Golkar itu menyoroti pihak-pihak yang mempersoalkan data tersebut. Ia menilai, masyarakat Indonesia kerap meragukan hal-hal yang menunjukkan keberhasilan.
"Jadi, kalau BPS mengatakan pertumbuhan ekonomi sekian, ya sudah, kenapa harus protes gitu? Kita ini kadang-kadang, kalau yang berhasil, ragu untuk mengakui. Tapi kalau yang, mohon maaf, yang tidak berhasil, suka diolokin," ucap Bahlil.
"Kita ini bangsa besar yang harus percaya kepada kemampuan bangsa dan anak-anak negeri ini," sambungnya.
Sebelumnya, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mempertanyakan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2025 sebesar 5,12 persen padahal di saat yang sama tidak ada momentum pendorongnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II mencapai 5,12 persen secara year on year. Angka itu tumbuh dibandingkan triwulan I sebesar 4,87 persen.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi INDEF Andry Satrio Nugroho mengatakan, data yang dikeluarkan oleh BPS dianggap sebagai anomali. Padahal di triwulan kedua ini tidak ada momentum Ramadan atau salah satu pendorong daya beli masyarakat.
"Terkait dengan triwulan II ini kita lihat bahwa tidak ada sebetulnya momentum Ramadan. Seperti di triwulan I. Dan pertumbuhannya di triwulan pertama ini tentu saja lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 4,87 persen tetapi secara mencengangkan di triwulan II 5,12 persen."
Baca tanpa iklan