QRIS Dinilai Dukung Digitalisasi UMKM dan Transformasi Ekonomi Indonesia
Bank Indonesia mencatat, per Agustus 2025, QRIS telah mencatat 6,05 miliar transaksi dengan nilai mencapai Rp579 triliun
Penulis:
Seno Tri Sulistiyono
Editor:
Sanusi
Lebih jauh, Prasasti menekankan bahwa digitalisasi bukan sekadar perkembangan e-commerce atau media sosial, melainkan pengungkit ekonomi lintas sektor yang harus terdistribusi merata di seluruh wilayah.
Pemerintah telah menempatkan digitalisasi UMKM sebagai salah satu agenda prioritas, mengingat kontribusi besar sektor ini terhadap perekonomian nasional. Namun, intensitas digital UMKM Indonesia dinilai masih rendah dan menjadi tantangan utama untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Fenomena hollow middle (minimnya jumlah usaha menengah di tengah dominasi usaha mikro (kecil) dan korporasi (besar)) menjadi salah satu hambatan struktural yang disorot Prasasti.
Baca juga: Didominasi Milenial dan Gen Z, Adopsi QRIS untuk Pembayaran Digital Makin Meluas
Digitalisasi dipandang dapat menjadi katalis untuk mendorong UMKM naik kelas melalui akses teknologi, perluasan pasar, dan pembiayaan digital.
“QRIS menjadi salah satu pintu masuk dalam proses ini. Selain memperkuat literasi digital dan kebiasaan pembayaran nontunai, catatan transaksi QRIS dapat dimanfaatkan sebagai data alternative credit scoring untuk memperluas akses pembiayaan UMKM yang selama ini sulit dijangkau lembaga keuangan formal,” urai Gundy.
Gundy menambahkan, pemerintah juga memiliki peluang mengintegrasikan data QRIS dengan sistem perpajakan digital untuk meningkatkan transparansi dan kepatuhan pajak.
Di luar UMKM, Prasasti mengidentifikasi sejumlah sektor berdampak tinggi yang masih memiliki tingkat digitalisasi rendah dan dapat menjadi quick wins bagi percepatan transformasi ekonomi.
Salah satu sektor tersebut adalah administrasi pemerintahan. Pengembangan platform data terpadu dan digitalisasi alur layanan publik dipandang dapat mengurangi hambatan birokrasi, mempercepat layanan, sekaligus memperbaiki peringkat ease of doing business Indonesia.
“Digitalisasi bukan hanya peningkatan teknologi. Ini adalah fondasi penting yang dapat mendorong produktivitas, memperkuat daya saing UMKM, dan menjadi pilar utama transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia,” pungkas Gundy.
Baca tanpa iklan