PLN Hadapi Tantangan Maha Berat Pulihkan Jaringan Listrik di Aceh
Pembangkit di Arun tidak bisa mengaliri listrik ke Banda Aceh yang memicu pemadaman bergilir di Banda Aceh.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- PLN menghadapi tantangan hebat dalam memulihkan jaringan listrik di Aceh pasca banjir bandang di berbagai wilayah.
- Ada enam tower transmisi antara Bireuen dan pembakit listrik di Arun yang roboh dan terbawa arus banjir.
- Pembangkit di Arun tidak bisa mengaliri listrik ke Banda Aceh yang memicu pemadaman bergilir di Banda Aceh.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan upaya pemulihan jaringan listrik di Aceh menghadapi tantangan teknis yang hebat.
Darmawan awalnya menjelaskan bahwa bencana banjir bandang di Aceh yang juga disertai longsor, telah mengakibatkan kerusakan yang masif dalam sistem kelistrikan Aceh.
Ia menyebut ada enam tower transmisi antara Bireuen dan pembakit listrik di Arun yang roboh. Lalu, sungai yang tadinya lebarnya 80 meter menjadi sekitar 300 sampai 400 meter.
"Tower-tower kami terbawa banjir bandang dan juga kabelnya juga hilang," kata Darmawan dalam konferensi pers secara daring, Selasa (9/12/2025).
Dia mendapat arahan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia agar segera memperbaiki tower yang rusak tersebut dan langsung menyambungkan kembali transmisi dari Arun ke Banda Aceh.
Dampak dari kerusakan tower ini adalah pembangkit di Arun yang tidak bisa mengaliri listrik ke Banda Aceh yang memicu pemadaman bergilir di Banda Aceh.
Sebenarnya masih ada pasokan dari pembangkit di Nagan Raya, tetapi kapasitasnya terbatas.
Kemudian, ada juga kerusakan yang lain, yaitu transmisi dari Bireuen menuju ke Aceh Tengah, Takengon, dan juga Bener Meriah. Ada beberapa tower PLN yang juga ambruk.
Baca juga: Bahlil Sebut Listrik Menyala 97 Persen, Warga Aceh Ramai-Ramai Ungkap Fakta: Masih Padam
"Kami juga mendapatkan arahan dalam kunjungan Pak Menteri untuk segera memperbaiki tower-tower dan juga kabel-kabel transmisi tersebut," ujar Darmawan.
Tantangan perbaikan tower ini satu di antaranya adalah bobot material tower yang mencapai 35 ton dan akhirnya harus diangkut menggunakan helikopter satu per satu.
Material ini juga memiliki tambahan berupa kabel-kabel dan peralatan lainnya yang bobotnya mencapai 16 ton. Pengiriman kemudian dilakukan dari Jakarta ke Banda Aceh lalu ke Bireuen yang melibatkan unsur TNI Angkatan Darat dan Angkatan Udara.
Baca juga: Lumpur Mengeras Setinggi Pinggang Menghambat Proses Evakuasi Korban Bencana di Aceh
"Kemudian, kami berhasil memulihkan tower dan juga menyambung kabel di tengah kondisi yang sangat sulit. Nah, dalam proses ini, kami berhasil merestorasi. Kemudian dalam saat yang bersamaan, transmisi dari Bireuen ke Takengon juga berhasil kami restorasi," ucap Darmawan.
Bermodalkan hal tersebut, ketika kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Banda Aceh dan saat rapat kabinet terbatas, Darmawan menyebut pihaknya waktu itu cukup optimis bahwa mereka bisa mengalirkan listrik dari Arun ke Banda Aceh dan bisa segera mengoreksi pasokan listrik di Banda Aceh.
Namun, ternyata dalam proses pengaliran listrik dari Arun ke Banda Aceh, ada tantangan teknis yang dihadapi.
Baca tanpa iklan