Sinyal Penguatan Ekonomi Muncul, Strategi Pemerintah Jelang 2026
Penguatan berbagai indikator tersebut mempertebal keyakinan pemerintah terhadap prospek pertumbuhan ekonomi tahun 2026
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Whiesa Daniswara
Pada agenda transformasi jangka panjang, percepatan ekonomi hijau menjadi perhatian utama.
Sejumlah inisiatif yang akan dikembangkan meliputi pembangunan Green Super Grid sepanjang 70.000 kilometer, pemanfaatan teknologi CCS hingga 600 gigaton, serta tujuh proyek waste-to-energy yang ditargetkan memasuki tahap konstruksi awal pada tahun depan.
“Selain itu, digitalisasi akan menjadi mesin pertumbuhan baru yang mampu mendorong perekonomian secara eksponensial,” tegas Airlangga.
Pengembangan UMKM, industri kendaraan listrik, serta program magang nasional bagi 100.000 lulusan baru juga menjadi prioritas.
Implementasi digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS yang telah menjangkau 57 juta konsumen dan 39 juta pelaku usaha diharapkan memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat posisi rupiah di kancah global.
Dunia Usaha
Optimisme serupa disampaikan kalangan dunia usaha.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang melampaui 5,5 persen pada 2026.
“Kami optimistis, sinergi pemerintah dan dunia usaha dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen pada 2026, dan hasilnya benar-benar mencerminkan optimisme,” ujarnya.
Sementara itu, hasil survei Adidaya Institute menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran.
Managing Director Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, mengungkapkan bahwa mayoritas responden menilai pemerintahan saat ini memiliki komitmen kuat terhadap tata kelola yang bersih.
“Sebanyak 78,5 persen responden menyatakan keyakinan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran bebas dari praktik korupsi,” jelasnya.
Selain itu, 72,2 persen responden juga percaya pemerintahan ini terbebas dari praktik kolusi. Analis politik Arif Nurul Imam menambahkan bahwa tingkat kebebasan sipil masih terjaga dengan baik.
“Survei ini mencatat 76,5 persen responden menilai kebebasan berpendapat di era Presiden Prabowo-Gibran tetap tinggi,” katanya.
Ia juga menyoroti stabilitas politik yang dinilai solid, dengan tingkat kepercayaan mencapai sekitar 73,1 persen.
Dengan fondasi ekonomi yang kian menguat, arah kebijakan yang progresif, serta tingkat kepercayaan publik yang tinggi, tahun 2026 dipandang sebagai fase krusial untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
(Tribunnews.com/ Chrysnha)
Baca tanpa iklan