Prabowo Targetkan RI Kembali Swasembada Bawang Putih seperti Era Soeharto
Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia kembali swasembada bawang putih seperti pada era Presiden ke-2 RI, Soeharto
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Indonesia diketahui pernah mencapai swasembada bawang putih pada 1995. Namun sejak 2020, produksinya terus menurun
- Berdasarkan laporan Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, produksi bawang putih mengalami fluktuasi pada 2020-2024
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia kembali swasembada bawang putih seperti pada era Presiden ke-2 RI, Soeharto.
Indonesia diketahui pernah mencapai swasembada bawang putih pada 1995. Namun sejak 2020, produksinya terus menurun.
Berdasarkan laporan Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, produksi bawang putih mengalami fluktuasi pada 2020-2024.
Baca juga: Mentan Amran Terima Banyak Laporan soal Bahan Pangan yang Diselundupkan ke RI, Ada Beras dan Migor
Pada 2020 produksi tercatat 81.805 ton. Kemudian turun signifikan 44,88 persen pada 2021 menjadi 45.092 ton.
Penurunan berlanjut pada 2022 menjadi 30.582 ton atau turun 32,18 persen. Produksi sempat naik pada 2023 menjadi 39.254 ton atau 28,36 persen, lalu naik tipis 0,48 persen pada 2024 menjadi 39.443 ton.
Sementara itu, kebutuhan bawang putih nasional berada di angka ratusan ribu ton. Badan Pangan Nasional mencatat kebutuhan bawang putih pada 2024 mencapai 664.321 ton per tahun.
"Pak Presiden sudah menargetkan bahwa bawang putih juga salah satu komoditas yang memang ditarget untuk swasembada ke depan," kata Wakil Menteri Pertanian Sudaryono di kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (12/1/2026).
Sudaryono menyebut kebutuhan lahan untuk mencapai swasembada tidak besar, yakni 100 ribu hektare.
Dalam proses menuju swasembada bawang putih, ia menyebut saat ini prosesnya sedang berada pada fase pembibitan.
"Sekarang sudah dimulai untuk pembibitan karena memang untuk bisa swasembada itu kan orang harus menanam. Nah menanam itu butuh bibit, nah bibitnya itu dibibitkan sekarang, sekarang ini fase pembibitan itu untuk bawang putih," ujar Sudaryono.
Meski kebutuhan lahan tidak besar, Sudaryono mengungkap ada hal lain yang harus diperhatikan, yaitu lokasi tanam harus berada di dataran tinggi serta membutuhkan ketersediaan bibit unggul.
“Bibitnya harus bagus dulu, tempatnya harus disediakan,” kata politikus Partai Gerindra itu.
Salah satu lokasi pembibitan itu berada di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, tepatnya di Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2).
TSTH2 merupakan pusat riset penelitian bibit unggul pertanian dan sebagai lokasi budidaya tanaman herbal berskala internasional.
Sebelumnya, perihal produksi bawang putih ini turut disinggung oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dalam unggahan di media sosial Instagramnya @luhut.pandjaitan.
Pada pekan pertama 2026, Luhut bertemu Wakil Kepala BRIN, Kepala BPOM, serta kepala lembaga riset lain untuk membahas percepatan agenda ketahanan pangan nasional.
Ia menyatakan, DEN sepakat mendukung penguatan riset bibit bawang putih guna mengurangi ketergantungan impor bibit, sekaligus meningkatkan kontribusi riset bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga: Mentan Amran Khawatir Bawang Bombai Impor Ilegal Bawa Penyakit dan Serang Tanaman di RI
Pertemuan ini juga menjadi tindak lanjut dari pesan Prabowo kepada Luhut saat retreat di Hambalang kemarin.
"Presiden berpesan agar tidak ada lagi agenda riset yang berjalan lambat," tulis Luhut dalam unggahannya.
Oleh karena itu, Luhut menegaskan pendekatan yang diambil tidak boleh lagi dilakukan secara sektoral.
Ia mengajak BRIN mengintegrasikan seluruh kekuatan riset seperti IPB, UGM, IT Del, dan TSTH2.
Jika kekuatan ini disatukan, ia yakin lompatan besar bagi ketahanan pangan nasional bisa diwujudkan.
"Indonesia pernah swasembada bawang putih pada 1995, namun sejak 2020 produksinya terus menurun. Inilah mengapa kita perlu memprioritaskan varietas unggul dan riset berbasis sains," tulis Luhut.
Dengan dukungan ratusan spesies herbal, superkomputer H200 dan B200, serta mesin genomik T7 terintegrasi, TSTH2 disiapkan menjadi salah satu pusat kolaborasi riset nasional dengan fokus pada tanaman herbal dan hortikultura.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.