Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Rupiah Melemah ke Rp 16.860 Per Dolar, BI: Stabilitas Tetap Terjaga

Pagi ini nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah terhadap dolar AS dan menyentuh level Rp 16.860 per dolar AS, Rabu 13 Januari 2026.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Rupiah Melemah ke Rp 16.860 Per Dolar, BI: Stabilitas Tetap Terjaga
(KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)
MELEMAH - Nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah ke level Rp 16.860 per dolar AS, Selasa 13 Januari 2026. Pelemahan rupiah banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan dunia yang sedang bergejolak. 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah ke level Rp 16.860 per dolar AS, Selasa 13 Januari 2026.
  • Nilai tukar rupiah di pasar spot Rabu pagi, 14 Januari 2026 dibuka menguat di level Rp 16.870 per dolar AS dibanding penutupan hari sebelumnya.
  • Pergerakan mata uang global termasuk rupiah saat ini banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan dunia yang sedang bergejolak serta meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri pada awal tahun turut menekan nilai tukar rupiah. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah ke level Rp 16.860 per dolar AS, Selasa 13 Januari 2026.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan, pergerakan mata uang global termasuk rupiah saat ini banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan dunia yang sedang bergejolak.

Selain faktor global, meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri pada awal tahun turut menekan nilai tukar rupiah. 

Kondisi tersebut mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi 1,04 persen secara year-to-date (ytd).

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Erwin dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Meski demikian, Erwin menegaskan pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya. Ia menyebut, won Korea Selatan melemah 2,46 persen, sementara peso Filipina terdepresiasi 1,04 persen akibat sentimen global yang sama.

Berdasar pantauan, nilai tukar rupiah di pasar spot Rabu pagi, 14 Januari 2026 dibuka menguat di level Rp 16.870 per dolar AS atau menguat tipis 0,04 persen dibanding penutupan hari sebelumnya.

Pagi ini, rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia. Erwin mengatakan, untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia terus menjalankan kebijakan stabilisasi secara konsisten dan berkelanjutan.

Baca juga: Depresiasi Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham

Antara lain melalui intervensi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah," tegas Erwin.

Aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik secara neto mencapai Rp11,11 triliun sepanjang Januari 2026. Kondisi ini mencerminkan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif.

Hal tersebut juga terlihat dari premi risiko Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 basis poin (bps).

Baca juga: Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Merosot ke Level Rp 16.877 per Dolar AS

Dari sisi ketahanan eksternal, BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 sebesar 156,5 miliar dolar AS, setara dengan 6,4 bulan impor, sehingga dinilai memadai sebagai bantalan dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.

Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan terus berada di pasar untuk memastikan pergerakan Rupiah tetap sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.

"Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ungkap dia.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas