Kayu Aro dan Kontribusi 4,5 Persen yang Menjaga Denyut Industri Teh
Kebun teh yang berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut itu merupakan bagian dari sejarah panjang industri perkebunan
Penulis:
Muhammad Zulfikar
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Seratus tahun bukan sekadar hitungan usia bagi Kebun Teh Kayu Aro, Kerinci, Jambi
- Kebun teh yang berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut itu merupakan bagian dari sejarah panjang industri perkebunan nasional
- Sejak tahun 2008, sekitar 4,5 persen dari total produksi teh PTPN IV disuplai oleh kebun teh Kayu Aro
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seratus tahun bukan sekadar hitungan usia bagi Kebun Teh Kayu Aro, Kerinci, Jambi. Ia adalah penanda ketahanan, ingatan kolektif, sekaligus tonggak penting perjalanan industri teh Indonesia.
Memasuki awal 2026, Sub Holding PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo menegaskan kembali arah masa depan Kayu Aro, sebuah kebun teh legendaris yang telah berdiri sejak 1925, dengan langkah transformasi dan penguatan standar mutu menuju persaingan global.
Baca juga: Lahan PTPN III Jadi Lokasi Hunian Sementara Korban Banjir Bandang di Aceh
Puncak peringatan satu abad Kebun Teh Kayu Aro digelar pada penghujung tahun lalu di tengah bentang hijau lereng Gunung Kerinci. Acara bertajuk ”Seabad Aroma, Rasa, Warna, dan Sejuta Cerita” itu dihadiri jajaran manajemen perusahaan, pemerintah daerah, serta unsur Forkopimda Kabupaten Kerinci.
Hadir langsung Bupati Kerinci Monadi, menandai posisi kebun teh ini bukan hanya penting bagi perusahaan, tetapi juga bagi daerah. Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan, Kayu Aro adalah lebih dari sekadar aset bisnis.
Kebun teh yang berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut itu merupakan bagian dari sejarah panjang industri perkebunan nasional.
“Selama 100 tahun, Kayu Aro telah menjadi saksi perjalanan industri teh dari masa ke masa. Hari ini, kebun ini dikelola sepenuhnya oleh anak bangsa, dan itu adalah kebanggaan tersendiri,” ujar Jatmiko dikutip Kamis (15/1/2026).
Baca juga: Menaker Yassierli Tinjau Pemagangan Nasional Batch I di PTPN, Pastikan Berjalan Sesuai Standar
Menurut dia, tantangan ke depan bukan hanya menjaga keberlanjutan produksi, tetapi juga memastikan kualitas Teh Kayu Aro mampu bersaing di pasar global, tanpa kehilangan pijakan kuat di pasar domestik. Dengan demikian, manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas, terutama oleh masyarakat di sekitar perkebunan yang bekerja dan hidup bersama.
Momentum satu abad dimaknai sebagai ruang refleksi sekaligus akselerasi. Salah satu langkah konkret yang diperkenalkan adalah peluncuran kemasan baru teh seduh dan teh celup Kayu Aro.
Langkah ini dirancang untuk menyegarkan identitas produk agar lebih relevan dengan selera konsumen masa kini, sambil tetap menonjolkan karakter historis yang melekat sejak lama.
“Transformasi kami lakukan melalui modernisasi dan digitalisasi, tetapi nilai historis dan keunikan Kayu Aro tetap dijaga,” kata Direktur Strategi dan Sustainability, Ugun Untaryo.
Ia menekankan peningkatan produktivitas dan standar kualitas menjadi fondasi utama pengelolaan kebun teh di abad kedua ini. Secara bisnis, kinerja ritel Teh Kayu Aro menunjukkan tren positif. Sejak tahun 2008, sekitar 4,5 persen dari total produksi teh PTPN IV disuplai oleh kebun teh Kayu Aro.
Bahkan teh yang dikenal amat disukai oleh keluarga kerajaan Belanda, termasuk Ratu Wilhelmina, Ratu Juliana, dan Ratu Beatrix, bahkan Ratu Inggris, karena aroma kuat dan rasanya yang premium tersebut juga didistribusikan hingga ke manca negara.
Lebih jauh, saat ini pihaknya juga mengintegrasikan aspek produksi dengan pelestarian lingkungan dan edukasi sejarah. Kebun Teh Kayu Aro diposisikan sebagai ekosistem berkelanjutan yang memadukan komoditas perkebunan, nilai konservasi, dan potensi agrowisata.
Identitas Kerinci
Bagi Pemerintah Kabupaten Kerinci, Kayu Aro adalah identitas daerah. Bupati Kerinci Monadi menyebut keberadaan kebun teh ini tak terpisahkan dari denyut ekonomi dan pariwisata setempat.
Baca tanpa iklan