Kayu Aro dan Kontribusi 4,5 Persen yang Menjaga Denyut Industri Teh
Kebun teh yang berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut itu merupakan bagian dari sejarah panjang industri perkebunan
Penulis:
Muhammad Zulfikar
Editor:
Sanusi
“Untuk itu kami berharap sinergi antara pemerintah daerah dan PTPN IV PalmCo terus diperkuat, agar kejayaan Kayu Aro sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Memasuki abad kedua, perusahaan menaruh optimisme besar. Sejarah panjang Kayu Aro dijadikan pijakan untuk melangkah lebih jauh, bukan sekadar nostalgia.
“Seratus tahun adalah awal dari babak baru. Dari sini, kita menuliskan cerita-cerita baru yang lebih kuat dan mengukuhkan Teh Kayu Aro sebagai salah satu standar kualitas teh dunia,” harap Jatmiko.
Di tengah persaingan global yang kian ketat, Kayu Aro memilih melangkah dengan caranya sendiri: bertumpu pada mutu, merawat warisan, dan beradaptasi dengan zaman. Sebuah perjalanan panjang yang, tampaknya, masih akan terus berlanjut.
Kebun Teh Kayu Aro di Kerinci, Jambi adalah perkebunan teh legendaris yang berdiri sejak 1925.
Dengan luas sekitar 2.500 hektar di ketinggian 1.600 mdpl, ia menjadi salah satu kebun teh terluas dalam satu hamparan di dunia dan tertinggi kedua setelah Darjeeling di India.
Sejarah & Fakta Utama
Didirikan tahun 1925 oleh kolonial Belanda, awalnya ditanami kopi sebelum beralih ke teh.
Luas 2.500 hektar, menjadikannya kebun teh terluas dalam satu hamparan di dunia.
Ketinggian 1.600 mdpl, menjadikannya kebun teh tertinggi kedua di dunia.
Dikelola PTPN IV PalmCo sejak transformasi dari perusahaan Belanda.
Produk teh Kayu Aro dikenal berkualitas tinggi dan pernah menjadi favorit bangsawan Eropa.
Agrowisata: pengunjung bisa melihat proses pemetikan teh, mengunjungi pabrik, dan menikmati panorama pegunungan.
Warisan kolonial: pabrik teh peninggalan Belanda masih beroperasi hingga kini.
Baca tanpa iklan