Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Rupiah Terperosok ke Level Kritis, Ekonom Nyalakan Alarm: Sudah Perlu Diwaspadai

Ekonom menilai tekanan rupiah saat ini lebih dipicu faktor domestik, terutama kekhawatiran fiskal dan premi risiko.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Rupiah Terperosok ke Level Kritis, Ekonom Nyalakan Alarm: Sudah Perlu Diwaspadai
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
NILAI TUKAR - Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta. Pada awal perdagangan Selasa (20/1/2027), sekitar pukul 09.03 WIB, rupiah spot di level Rp 16.988 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,19 persen sehari sebelumnya Rp 16.955 per dolar AS. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah hingga Rp16.955 per dolar AS dan dinilai sudah masuk fase yang perlu diwaspadai.
  • Ekonom menilai tekanan rupiah saat ini lebih dipicu faktor domestik, terutama kekhawatiran fiskal dan premi risiko.
  • Meski mendekati level psikologis Rp17.000, kondisi saat ini dinilai berbeda dengan krisis 1997–1998.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah hingga mendekati level Rp17.000 per dolar AS.

Pada awal perdagangan Selasa (20/1/2027), sekitar pukul 09.03 WIB, rupiah spot di level Rp 16.988 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,19 persen sehari sebelumnya Rp 16.955 per dolar AS.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, pelemahan rupiah kali ini sudah masuk fase yang perlu dicermati lebih serius, meski belum bisa disamakan dengan krisis 1997–1998 yang menyentuh Rp 17.000 per dolar AS.

Baca juga: Rupiah Makin Tertekan Sentuh Level Rp16.988 per Dolar AS

"Saya menilai ini sudah masuk fase yang perlu lebih dicermati karena mendekati titik terendah historis dan terjadi di tengah narasi kekhawatiran fiskal," kata Josua saat dihubungi Tribunnews, Selasa (20/1/2026).

Menurutnya, pelemahan rupiah perlu diwaspadai jika terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil surat utang negara (SBN), meningkatnya kebutuhan lindung nilai (hedging), serta komunikasi kebijakan yang kurang meyakinkan pasar.

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam kondisi tersebut, tekanan bisa berubah dari sekadar gejolak jangka pendek menjadi lebih persisten.

Terkait perbandingan dengan krisis Orde Baru, Josua menilai hal itu lebih bersifat psikologis daripada fundamental.

"Angka mendekati Rp17.000 mudah memicu ingatan kolektif, tetapi kurang tepat jika dipakai sebagai kesimpulan fundamental," jelas Josua.

Ia menegaskan bahwa krisis 1997–1998 terjadi saat sistem keuangan Indonesia masih rapuh, utang valas swasta besar dan tidak terlindungi, serta kepercayaan pasar runtuh. 

Sementara saat ini, Indonesia memiliki rezim nilai tukar yang lebih fleksibel, kebijakan moneter dan pengawasan perbankan yang lebih matang, serta penyangga eksternal yang jauh lebih kuat.

"Salah satu indikatornya, dalam beberapa tahun terakhir cadangan devisa berada pada tingkat yang tinggi dan pernah setara lebih dari 6 bulan pembiayaan impor, sehingga memberi ruang bagi otoritas untuk meredam gejolak," tutur dia.

Josua menjelaskan, pelemahan rupiah ke level Rp 16.955 per dolar AS dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, namun tekanan domestik dinilai lebih dominan.

Dari sisi global, pasar keuangan tengah sensitif terhadap isu geopolitik dan perang tarif, termasuk ancaman tarif baru yang mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas.

Namun, pada hari yang sama, indeks dolar AS justru melemah tipis, sehingga tekanan pada rupiah tidak sepenuhnya sejalan dengan pergerakan global.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas