Rupiah Terperosok ke Level Kritis, Ekonom Nyalakan Alarm: Sudah Perlu Diwaspadai
Ekonom menilai tekanan rupiah saat ini lebih dipicu faktor domestik, terutama kekhawatiran fiskal dan premi risiko.
Tayang:
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
NILAI TUKAR - Karyawati menunjukkan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di tempat penukaran uang asing di Jakarta. Pada awal perdagangan Selasa (20/1/2027), sekitar pukul 09.03 WIB, rupiah spot di level Rp 16.988 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,19 persen sehari sebelumnya Rp 16.955 per dolar AS.
"Sehingga rupiah terlihat melemah lebih karena faktor khusus domestik," ujar Josua.
Di kawasan Asia, rupiah disebut semakin dekat ke titik terendah historisnya dan dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal. Saat persepsi risiko fiskal meningkat, permintaan dolar untuk lindung nilai ikut naik dan investor meminta kompensasi lebih besar untuk memegang aset rupiah.
Hal tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil surat utang negara Indonesia pada hari yang sama, yang menandakan meningkatnya premi risiko.
"Situasi seperti ini membuat rupiah lebih mudah tertekan setiap kali ada guncangan eksternal, karena sentimen global hanya menjadi pemantik, sementara bahan bakarnya adalah premi risiko domestik," tegas dia.
Berita Populer
Berita Terkini
Baca tanpa iklan