Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

IHSG Anjlok Dua Hari, Kepercayaan Pasar Dinilai Kian Rapuh

Kejatuhan pasar dinilai mencerminkan melemahnya kepercayaan investor yang dipicu ketidakpastian kebijakan dan sentimen global.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Erik S
zoom-in IHSG Anjlok Dua Hari, Kepercayaan Pasar Dinilai Kian Rapuh
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
IHSG ANJLOK - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. 

Ringkasan Berita:
  • IHSG anjlok 5,91 persen ke level 7.828,47 akibat tekanan di seluruh sektor, dengan penurunan terdalam terjadi pada sektor energi dan barang baku.
  • Kejatuhan pasar dinilai mencerminkan melemahnya kepercayaan investor yang dipicu ketidakpastian kebijakan dan sentimen global.
  • Kondisi ini dikhawatirkan berdampak luas ke sektor riil, dunia kerja, hingga kehidupan sosial masyarakat.
  •  

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot 5,91 persen atau terpangkas 492 poin ke level 7.828,47  pada perdagangan sesi I, Kamis (29/1/2026).

IHSG tertekan penurunan seluruh indeks sektoral. Sektor yang turun paling dalam adalah energi 8,04 persen, disusul barang baku 7,81 persen, properti dan real estate 7,52 persen, barang konsumer non primer 7,38 persen serta teknologi 6,86 persen.

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menilai peristiwa ini sebagai peringatan serius atas rapuhnya fondasi kepercayaan ekonomi nasional. 

Ketua DPP GMNI, Sujahri Somar, menegaskan bahwa guncangan pasar modal selalu memiliki implikasi yang jauh lebih luas dari sekadar angka indeks. Ketika kepercayaan investor runtuh, efeknya akan merambat ke sektor riil, dunia kerja, dan pada akhirnya kehidupan sosial masyarakat.

Baca juga: Presiden Prabowo Tak Tahu IHSG Anjlok Dua Hari?

“Pasar bukan sedang bereaksi berlebihan. Pasar sedang membaca arah kebijakan. Ketika sinyal yang ditangkap adalah ketidakpastian, maka yang terjadi bukan koreksi biasa, tapi kepanikan yang sistemik,” tegas Sujahri dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut GMNI, sentimen eksternal seperti isu penyesuaian kebijakan indeks global oleh MSCI memang menjadi pemicu awal.

Namun, dampak tersebut menjadi jauh lebih destruktif karena lemahnya persepsi terhadap independensi Bank Indonesia sebagai benteng terakhir stabilitas ekonomi nasional. 

“Masalahnya bukan hanya MSCI. Masalahnya adalah ketika benteng moneter kita dipersepsikan tidak lagi netral. Dalam kondisi seperti itu, satu sentimen negatif kecil bisa berubah menjadi gelombang besar,” ujar Sujahri. 

Sujahri menjelaskan bahwa independensi bank sentral bukan isu elitis, melainkan soal kepercayaan publik dan pasar.

Bank sentral yang dipersepsikan dekat dengan kekuasaan politik akan selalu dicurigai mengambil keputusan berdasarkan kepentingan jangka pendek, bukan stabilitas jangka panjang. 

“Investor butuh kepastian bahwa kebijakan moneter dibuat dengan kepala dingin, bukan dengan pertimbangan politik. Begitu keyakinan itu hilang, modal akan mencari tempat yang lebih aman,” katanya. 

GMNI menilai derasnya arus keluar modal asing (capital outflow) dan tekanan terhadap pasar keuangan menjadi pemicu awal krisis ekonomi. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya akan menjalar ke sektor perbankan, pembiayaan usaha, hingga daya beli masyarakat. 

“Krisis ekonomi selalu dimulai dari krisis kepercayaan. Dan krisis kepercayaan selalu dimulai dari kebijakan yang tidak transparan,” tegas Sujahri. 

Lebih jauh, DPP GMNI mengingatkan bahwa krisis ekonomi tidak pernah berhenti di ruang pasar. Sejarah menunjukkan, ketika stabilitas ekonomi terguncang, kelompok masyarakat paling rentan akan menjadi korban pertama. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas