Ketua Banggar DPR Pertanyakan Keputusan MSCI yang Telah Bikin IHSG Ambruk: Perlu Pembuktian
Said mendorong adanya second opinion lembaga pemeringkat lain demi melindungi investor ritel dan menjaga kepercayaan pasar modal Indonesia.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Ketua Banggar DPR Said Abdullah mempertanyakan langkah MSCI yang memicu anjloknya IHSG hingga dua hari trading halt dan arus keluar dana asing Rp 6,12 triliun.
- Ia menilai masukan MSCI bisa bersifat konstruktif, namun perlu dikritisi karena pengaruhnya sangat besar terhadap keputusan investor global.
- Said mendorong adanya second opinion lembaga pemeringkat lain demi melindungi investor ritel dan menjaga kepercayaan pasar modal Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mempertanyakan langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sampai membuat trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama dua hari berturut-turut.
MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi dunia, termasuk dana kelolaan raksasa seperti reksa dana global, dana pensiun, dan exchange traded fund (ETF).
Indeks MSCI digunakan untuk menentukan alokasi investasi lintas negara, termasuk klasifikasi suatu negara sebagai Developed Market, Emerging Market, atau Frontier Market.
Baca juga: Ini Langkah OJK Penuhi Permintaan MSCI, Pastikan Regulasi Pasar Modal Sesuai Standar Internasional
Ia menjelaskan, langkah MSCI yang akan mengeluarkan sejumlah emiten besar dalam pemeringkatan mereka, membuat IHSG terpukul dalam dua hari ini.
"MSCI berdalih ada persoalan free float, likuiditas riil, dan transparansi pada sejumlah emiten besar pada bursa saham Indonesia," kata Said dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).
Dampak kebijakan tersebut terlihat dari pergerakan IHSG pada Rabu (28/1/2026) yang turun hingga 7,3 persen dan memaksa otoritas bursa menerapkan trading halt.
Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1/2026) pagi ketika IHSG sempat tertekan ke level minus 8,5 persen, sebelum akhirnya menguat jelang sore ke posisi minus 1,76 persen.
Dalam periode tersebut, dana asing tercatat keluar dari pasar saham mencapai Rp 6,12 triliun.
Meski demikian, Said mencatat nilai kapitalisasi pasar pada perdagangan hari ini justru lebih besar dibandingkan hari sebelumnya.
Menurut dia, kondisi tersebut di satu sisi menunjukkan kepercayaan pelaku pasar terhadap bursa saham Indonesia masih sangat besar.
Namun demikian, Said menilai koreksi yang disampaikan MSCI tetap harus dicermati secara kritis oleh pelaku pasar, otoritas bursa, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ia menyebut, masukan MSCI dapat dibaca sebagai koreksi konstruktif untuk membangun pasar modal yang lebih sehat, khususnya terkait pembenahan administrasi.
Walau begitu, Said mengingatkan bahwa kepercayaan terhadap lembaga pemeringkat yang dianggap kredibel kerap menempatkan lembaga tersebut pada posisi sangat berpengaruh di pasar.
"Saat lembaga mendapat kepercayaan, terkadang juga seperti memegang kuasa mengeluarkan 'fatwa', bahkan terkadang juga 'fatwa' itu dipatuhi tanpa reserve, sekalipun dalam dunia bisnis seharusnya sangat matematis dan logis," kata Said.
Baca tanpa iklan