Menkeu Purbaya Klaim Pjs Dirut BEI Jeffrey Hendrik Bakal Temui MSCI Besok
Jeffrey Hendrik, akan mewakili BEI dalam pertemuan dengan lembaga penyedia indeks global MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada Senin
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Sanusi
Sedangkan penutupan sesi pertama, IHSG berakhir anjlok 7,34 persen atau 659,01 poin ke level 8.321,22.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 8.269,14 sampai 8.596,17.
Nilai transaksi mencapai Rp30 triliun dengan melibatkan 40,69 miliar saham.
Hanya 32 saham berhasil menguat, 800 saham anjlok, dan 126 saham stagnan.
Apa Itu MSCI?
Berdasarkan laman msci.com, Morgan Stanley Capital International (MSCI) merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi dunia, termasuk dana kelolaan raksasa seperti reksa dana global, dana pensiun, dan exchange traded fund (ETF).
Indeks MSCI digunakan untuk menentukan alokasi investasi lintas negara, termasuk klasifikasi suatu negara sebagai Developed Market, Emerging Market, atau Frontier Market.
Dalam pengumumannya, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Hal ini diterapkan untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.
"Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” tulis pengumuman MSCI yang dirilis pada Selasa (27/1) malam.
Dalam pengumuman terpisah, MSCI menyampaikan langkah untuk mengurangi potensi reverse turnover pada Index Review Mei 2026 yang dapat timbul akibat penerapan metodologi pembulatan free float yang ditingkatkan.
“Oleh karena itu, pada Index Review Februari 2026, MSCI hanya akan menerapkan perubahan free float yang bersifat signifikan,” jelas MSCI.
Di sisi lain, Tim Riset KISI Sekuritas Indonesia mengatakan, interim freeze itu membuat tidak akan ada penambahan saham baru (Additions) atau promosi (Small to Standard) untuk emiten Indonesia pada review periode Februari 2026.
“Dampak langsung ke (saham) kandidat adalah seluruh tesis investasi berbasis inklusi MSCI untuk Februari ini gugur,” tulisnya dalam riset yang dikutip dari Kontan.
Masalah utama dari keputusan itu adalah krisis kepercayaan. MSCI menyebutkan investor global tidak percaya pada data kepemilikan saham, baik punya KSEI maupun BEI.
Ini lantaran terdapat masalah terkait struktur kepemilikan yang buram (opacity) dan dugaan manipulasi harga terkoordinasi (coordinated trading behavior).
Baca tanpa iklan