Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Ancaman Turun Peringkat dari MSCI Tak Membuat Menkeu Purbaya Khawatir

Indonesia berpotensi turun kasta dari emerging market menjadi frontier market.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Sanusi
zoom-in Ancaman Turun Peringkat dari MSCI Tak Membuat Menkeu Purbaya Khawatir
Tribunnews/Nitis Hawaroh
TIDAK KHAWATIR - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah tidak khawatir dengan peringatan MSCI yang menyebut Indonesia berisiko mengalami penurunan peringkat pasar modal 

Ringkasan Berita:
  • Peringatan MSCI menjadi momentum penting untuk membenahi pasar saham domestik, khususnya terkait masalah transparansi dan tata kelola
  • Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks global MSCI menyoroti risiko investabilitas di pasar modal Tanah Air

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah tidak khawatir dengan peringatan MSCI yang menyebut Indonesia berisiko mengalami penurunan peringkat pasar modal, selama perbaikan dilakukan secara serius dan tepat waktu. 
 
"Tidak (khawatir) karena kondisinya sedang kami perbaiki. Kecuali jika kami mengabaikan peringatan MSCI hingga Mei, barulah itu mengkhawatirkan," kata Purbaya dalam acara IBC Indonesia Economic Summit 2026, ditulis Rabu (4/2/2026).

Pasar saham Indonesia dalam tekanan. Morgan Stanley Capital International (MSCI) diketahui membekukan evaluasi indeks saham Indonesia hingga Mei 2026. Indonesia berpotensi turun kasta dari emerging market menjadi frontier market. Seperti diketahui, pasar saham Indonesia drop pada perdagangan Rabu (28/1/2026) menyusul keputusan MSCI yang menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar modal domestik.

Baca juga: IHSG Ditutup Melemah 0,53 Persen ke 8.079 Pada Sesi I Perdagangan Rabu 4 Februari

"Saya yakin pemerintah dan seluruh regulator pasar telah mengambil langkah yang tepat agar sebelum Mei kami memenuhi keinginan MSCI," imbuhnya menegaskan.

Menurut Purbaya, peringatan tersebut justru menjadi momentum penting untuk membenahi pasar saham domestik, khususnya terkait masalah transparansi dan tata kelola.

"Ketidaktransparanan di pasar cukup besar. Saya sudah mengatakan kepada manajemen bursa saham beberapa bulan lalu untuk membersihkan praktik “menggoreng” harga saham, tetapi mereka tidak melakukan apa pun," ucap Purbaya.

Rekomendasi Untuk Anda

"Bagi saya, peringatan MSCI justru hal yang baik karena memberi saya dasar untuk membersihkan praktik pasar agar menjadi lebih baik," sambungnya.

Di satu sisi, Purbaya juga memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengatasi hal tersebut. Meskipun fokus utama pemerintah memenuhi seluruh tuntutan MSCI, terutama dalam hal transparansi dasar pasar.

Selain itu, pemerintah juga memastikan belanja negara berjalan tepat waktu pada kuartal I dan II, menjaga likuiditas ekonomi, serta memperbaiki iklim usaha.

"Kami akan memenuhi seluruh tuntutan MSCI, terutama transparansi dasar. Sebagai Menteri Keuangan, saya tidak terlalu terlibat dalam urusan dewan, tetapi fokus memastikan ekonomi bergerak ke arah yang benar," ujar Purbaya.

"Saya yakin satu tahun ke depan, iklim usaha akan jauh lebih baik. Itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan tercermin pada kenaikan harga saham," tuturnya.

Peringatan MSCI ke pasar saham Indonesia

Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks global MSCI menyoroti risiko investabilitas di pasar modal Tanah Air. 

Langkah tersebut dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, terutama dari investor pasif. Dalam laporan terbarunya, bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu memangkas outlook Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight.

Analis Goldman menilai peringatan MSCI akan menjadi sentimen negatif yang membebani kinerja pasar saham Indonesia ke depan. 

“Kami memperkirakan aksi jual pasif masih akan berlanjut dan perkembangan ini menjadi hambatan bagi pergerakan pasar,” tulis Goldman Sachs dalam risetnya, dikutip dari Reuters.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas