Indonesia Siapkan Infrastruktur Perdagangan Digital Terbuka untuk Perluas Akses UMKM
Indonesia kian memantapkan langkah membangun ekosistem perdagangan digital yang terbuka dan inklusif
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Indonesia menyiapkan Indonesia Open Network (ION) sebagai infrastruktur perdagangan digital terbuka untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing UMKM.
- ION mengadopsi model jaringan interoperabel, terinspirasi dari ONDC India dan tren global Digital Public Infrastructure.
- Didukung pemerintah dan pelaku industri, ION ditargetkan menjadi fondasi baru ekosistem perdagangan digital nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia kian memantapkan langkah membangun ekosistem perdagangan digital yang terbuka dan inklusif melalui pengembangan infrastruktur perdagangan digital nasional baru bernama Indonesia Open Network (ION).
Inisiatif ini diarahkan untuk memperluas akses pasar digital, meningkatkan daya saing usaha kecil, serta mempercepat inklusi ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.
Baca juga: Jaksa Heran Harga Satuan Chromebook di e-Katalog Lebih Mahal Dibanding Marketplace
Indonesia Economic Forum (IEF) mengumumkan penyelenggaraan acara “Curtain Raiser on Indonesia Open Network (ION)” yang digelar pada 5 Februari 2026 di Mangkuluhur ARTOTEL, Jakarta.
Kegiatan ini menjadi bagian dari 12th Annual Indonesia Economic Forum bertema “The Digital Archipelago: Building Inclusive Digital Commerce Ecosystem”, yang mempertemukan pejabat pemerintah, pelaku industri, serta pemimpin global di sektor ekonomi digital.
Acara dibuka oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Mamman Abdurrahman, didampingi Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria. Rangkaian agenda mencakup diskusi panel tingkat tinggi seputar layanan keuangan, logistik, dan inovasi digital, serta ditutup dengan konferensi pers.
ION lahir dari penguatan kemitraan teknologi India–Indonesia, yang ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman kerja sama Pengembangan Digital di New Delhi pada Januari 2025, bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Prabowo–Modi.
Kerja sama tersebut membuka jalan bagi adopsi pendekatan Digital Public Infrastructure (DPI) dan pembelajaran dari praktik jaringan terbuka yang telah diterapkan di India.
Dirancang sebagai utilitas perdagangan digital terbuka yang digerakkan sektor swasta namun berorientasi kepentingan publik, ION mengadopsi prinsip interoperabilitas lintas platform.
Baca juga: BPOM Angkat Bicara soal Obat China di Marketplace: Banyak Overklaim dan Tak Jelas Izinnya
Infrastruktur ini memungkinkan konektivitas antara aplikasi pembeli, sistem penjual, logistik, pembayaran, dan layanan digital lainnya tanpa ketergantungan pada satu marketplace tertutup.
Sejumlah tokoh nasional dan internasional telah bergabung dalam ION Advisory Council, di antaranya Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Dr. Ilham A. Habibie, mantan Menteri Kominfo Rudiantara, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, serta figur kunci pengembangan Open Network for Digital Commerce (ONDC) India, seperti Dr. R. S. Sharma dan T. Koshy.
Sementara itu, ION Steering Committee tengah dibentuk untuk mengawal aspek desain, implementasi, dan adopsi jaringan di tingkat industri.
Model Bisnis Berbasis Jaringan Terbuka
Berbeda dengan model e-commerce konvensional yang bersifat tertutup, ION mengusung protokol teknis dan kerangka tata kelola bersama yang memungkinkan interoperabilitas lintas sistem. Model ini diharapkan mengurangi fragmentasi pasar digital dan membuka peluang yang lebih setara bagi UMKM, koperasi, petani, perajin, serta pelaku usaha lokal untuk bersaing dan bertumbuh.
Pendekatan ini terinspirasi dari ONDC di India, yang sejak diluncurkan pada 2021 telah memfasilitasi ratusan juta transaksi lintas sektor. Studi terbaru menunjukkan pelaku UMKM di kota Tier II dan Tier III India mengalami peningkatan pendapatan rata-rata hingga 20 persen setelah bergabung dengan jaringan tersebut.
Baca tanpa iklan