Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Moody’s Turunkan Outlook Indonesia, Ini Dampaknya ke Kantong Masyarakat

Dampak ke masyarakat terasa lewat bunga kredit lebih mahal, investasi tertahan, dan peluang kerja melambat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Moody’s Turunkan Outlook Indonesia, Ini Dampaknya ke Kantong Masyarakat
KONTAN/Carolus Agus Waluyo
DAMPAK PENURUNAN OUTLOOK - Dampak ke masyarakat dari penurunan outlook kredit Indonesia menjadi negatif dari stabil, terasa lewat bunga kredit lebih mahal, investasi tertahan, dan peluang kerja melambat. 

Ringkasan Berita:
  • Penurunan outlook Moody’s mendorong kenaikan yield obligasi, menekan APBN dan meningkatkan biaya utang.
  • Tekanan pada rupiah berpotensi memicu inflasi lewat kenaikan harga barang impor dan biaya produksi.
  • Dampak ke masyarakat terasa lewat bunga kredit lebih mahal, investasi tertahan, dan peluang kerja melambat.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keputusan lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif dari stabil, berpengaruh terhadap biaya hidup masyarakat.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, penurunan outlook RI pastinya akan meningkatkan bunga surat utang atau obligasi, karena investor cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi. 

"Efeknya terasa pada harga obligasi (yield naik) dan biaya penerbitan utang baru, baik untuk pemerintah maupun korporasi," ujarnya dikutip Sabtu (7/2/2026).

Naiknya bunga obligasi akan memberikan beban terhadap APBN dalam membayar bunganya, sebab pemasukan APBN salah satunya dari penerbitan surat utang.

Baca juga: Kredit Diproyeksi Tumbuh 12 Persen, BI Tegaskan Fundamental Masih Kuat Meski Ada Sentimen Moodys

Kemudian, dampak kedua yaitu tekanan terhadap nilai tukar rupiah. 

Rekomendasi Untuk Anda

Syafruddin menyampaikan, outlook negatif ini memperkuat persepsi risiko kebijakan, sehingga minat terhadap aset berdenominasi rupiah melemah. 

"Pelemahan rupiah berpotensi mendorong inflasi, terutama melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi. Ketika kredibilitas kebijakan moneter dipertanyakan, volatilitas nilai tukar dan inflasi cenderung lebih mudah meningkat," tutur dia.

Dampak Ketiga yakni arus modal dan pasar saham tertekan. 

Sebab menurut Syafruddin, outlook negatif mendorong sikap “risk-off” investor asing. Arus jual di pasar saham dan tekanan terhadap IHSG menunjukkan bahwa pasar merespons melalui pergerakan harga, bukan sekadar wacana.

Syafruddin menekankan bahwa dampak penurunan outlook ini pada akhirnya juga bisa dirasakan masyarakat luas. 

Pertama, harga dan daya beli akan tertekan.

"Rupiah yang melemah membuat harga barang impor seperti pangan, energi, obat-obatan, dan bahan baku naik, yang bisa diteruskan ke harga jual," ujar dia.

Kemudian, bunga kredit naik dan akses pembiayaan mengetat. 

Ia menjelaskan, kenaikan yield obligasi membuat biaya dana perbankan meningkat. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas