Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

OJK dan Bursa Efek Indonesia Kembali Temui MSCI Rabu Mendatang

BEI dan KSEI telah menyerahkan proposal inisiatif kepada MSCI guna merespons kekhawatiran lembaga penyedia indeks internasional tersebut.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in OJK dan Bursa Efek Indonesia Kembali Temui MSCI Rabu Mendatang
Tribunnews.com/Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
OJK DAN BEI TEMUI MSCI - Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Senin (9/2/2026). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI akan kembali melakukan pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI), Rabu, 11 Februari 2026. 

Jika belum, BEI bersama SRO akan kembali melakukan penyesuaian terkait dengan kebutuhan yang diperlukan. "Dari situ tentunya nanti kita masing-masing pihak bisa melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan," ucap Jeffrey.

Dua pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hingga perdagangannya dihentikan sementara karena pengumuman yang dibuat MSCI.

MSCI yang merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi dunia tersebut, mengumumkan bahwa mereka membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks saham di Indonesia, efektif mulai rebalancing Februari 2026.

Baca juga: Kisruh IPO, OJK Jatuhkan Sanksi Miliaran Rupiah ke Emiten PIPA dan REAL

Pembekuan itu membuat tidak akan ada penambahan saham baru (Additions) atau promosi (Small to Standard) untuk emiten Indonesia pada review periode Februari 2026.

Menurut Tim Riset KISI Sekuritas Indonesia, masalah utama dari keputusan MSCI adalah krisis kepercayaan.

MSCI menyebutkan investor global tidak percaya pada data kepemilikan saham, baik punya KSEI maupun BEI.

Ini lantaran terdapat masalah terkait struktur kepemilikan yang buram (opacity) dan dugaan manipulasi harga terkoordinasi (coordinated trading behavior).

Rekomendasi Untuk Anda

“Secara sederhana market kita dianggap terlalu banyak "gorengan" dan data free float-nya tidak mencerminkan realita,” kata Tim Riset KISI Sekuritas Indonesia.

Jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan, MSCI pun mengancam akan mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia dan menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas