Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Hadapi 2026, Ketahanan Modal Jadi Strategi Utama Bank Woori Saudara

Ketahanan permodalan dan kehati-hatian pengelolaan risiko menjadi fondasi utama bagi perbankan untuk menjaga keberlanjutan kinerja.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Sanusi
zoom-in Hadapi 2026, Ketahanan Modal Jadi Strategi Utama Bank Woori Saudara
dok.
PERKUAT PERMODALAN - Memasuki tahun 2026, sektor perbankan nasional diperkirakan masih berada dalam fase pertumbuhan yang moderat namun penuh tantangan. 

Ringkasan Berita:
  • Memasuki tahun 2026, sektor perbankan nasional diperkirakan masih berada dalam fase pertumbuhan yang moderat namun penuh tantangan
  • Ketahanan permodalan dan kehati-hatian pengelolaan risiko menjadi fondasi utama bagi perbankan untuk menjaga keberlanjutan kinerja

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Untuk menghadapi berbagai risiko dan tantangan, Bank Woori Saudara (BWS) menekankan aspek kekuatan permodalan menjadi salah satu pilar strategi utama untuk tahun 2026.

Bank Woori Saudara (BWS) adalah lembaga keuangan berbentuk bank umum di Indonesia dengan sejarah panjang sejak tahun 1906. Awalnya dikenal sebagai Bank Saudara, bank ini merupakan salah satu bank swasta tertua di Indonesia. Pada tahun 2014, Bank Saudara resmi bergabung dengan Woori Bank dari Korea Selatan, sehingga menjadi PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906

Memasuki tahun 2026, sektor perbankan nasional diperkirakan masih berada dalam fase pertumbuhan yang moderat namun penuh tantangan. Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan kredit berada pada kisaran 8–12 persen.

Baca juga: Produk Funding Baru BWS Tawarkan Fleksibilitas Tabungan Angsuran

Meskipun kredit diperkirakan tumbuh positif, tetapi risiko terhadap kualitas aset menjadi perhatian utama seiring normalisasi suku bunga, dinamika global, serta tekanan pada sektor-sektor tertentu.

Dalam konteks ini, ketahanan permodalan dan kehati-hatian pengelolaan risiko menjadi fondasi utama bagi perbankan untuk menjaga keberlanjutan kinerja.

Rekomendasi Untuk Anda

"Pertumbuhan kredit yang solid tetap menjadi motor utama intermediasi perbankan. Namun, laju ekspansi tersebut tidak terlepas dari potensi peningkatan risiko kredit, terutama pada segmen-segmen yang sensitif terhadap volatilitas ekonomi dan arus kas. Oleh karena itu, perbankan secara umum mengarahkan strategi pada pertumbuhan yang lebih selektif, berbasis kualitas, serta disiplin dalam manajemen risiko." kata Azis dari Kiwoom Sekuritas, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, salah satu fokus utama industri perbankan saat ini adalah penguatan pencadangan dan permodalan. Langkah ini dipandang penting untuk mengantisipasi potensi pemburukan kualitas kredit sekaligus menjaga stabilitas keuangan dalam jangka menengah. Bank-bank dengan struktur permodalan yang kuat dinilai memiliki ruang manuver yang lebih luas dalam menghadapi dinamika ekonomi di tahun 2026.

Dalam kondisi tersebut, bank-bank dengan skala kecil menengah menjadi sorotan. Meski skala operasionalnya lebih kecil dan terbatas, tetapi bank-bank kecil justru memiliki tingkat permodalan yang kuat. Salah satunya adalah BWS yang berada pada posisi yang relatif unggul.

BWS memiliki rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) yang mencapai 32,25 persen.  Dengan angka tersebut, BWS memiliki bantalan modal yang jauh di atas ketentuan regulator serta rata-rata industri. Tingkat permodalan ini mencerminkan kekuatan neraca yang solid serta kesiapan bank dalam menyerap berbagai potensi risiko.

"KPMM yang tinggi memberikan fleksibilitas strategis bagi bank seperti BWS dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian. Bank memiliki kapasitas untuk tetap menyalurkan kredit secara terukur tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian, sekaligus memastikan rasio permodalan tetap berada pada level yang sehat di tengah ketidakpastian ekonomi." tambah Azis.

Selain itu, permodalan yang kuat juga memungkinkan BWS untuk mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif. Pendekatan ini penting untuk menjaga kualitas aset dan memitigasi potensi lonjakan kredit bermasalah, terutama pada periode transisi ekonomi dan penyesuaian siklus bisnis. Dengan pencadangan yang memadai, risiko tekanan terhadap profitabilitas dapat dikelola secara lebih terkendali.

Di sisi lain, strategi BWS di 2026 juga terus mengedepankan selektivitas dalam penyaluran kredit. Fokus diberikan pada sektor dan debitur dengan fundamental yang kuat, arus kas yang terjaga, serta profil risiko yang terukur. Strategi ini sejalan dengan upaya bank untuk memastikan pertumbuhan kredit yang berkelanjutan dan berkualitas, bukan semata mengejar volume.

"Pendekatan kehati-hatian tersebut menjadi semakin relevan di tengah potensi volatilitas global, termasuk ketidakpastian arah kebijakan moneter global dan dinamika geopolitik. Dalam kondisi seperti ini, bank dengan struktur permodalan yang kuat cenderung lebih resilien dan mampu menjaga kepercayaan publik" ujar Azis.

Bagi BWS, menjaga soliditas permodalan bukan hanya soal kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat daya tahan bisnis. Modal yang kuat menjadi fondasi bagi bank dalam menghadapi berbagai skenario ekonomi, baik dalam kondisi normal maupun saat terjadi tekanan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas