Dampak Rupiah Ambruk: Harga Pangan Naik, PHK hingga Petani Menjerit
Rupiah merosot ke level Rp17.727 dari posisi penutupan kemarin Rp 17.668 per dolar AS. Rupiah pagi tadi di buka di posisi Rp 17.679 per dolar AS.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Pelemahan rupiah dinilai berdampak luas mulai dari kenaikan harga barang impor, BBM, LPG, pupuk hingga kebutuhan pangan masyarakat desa dan perkotaan.
- Ekonom memperingatkan industri berbahan baku impor berpotensi menekan produksi dan memicu PHK massal akibat biaya operasional yang meningkat.
- Petani mulai mengeluhkan lonjakan harga pestisida dan perlengkapan pertanian, sementara sektor perbankan syariah juga dinilai rentan terdampak depresiasi rupiah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan rupiah terhadap dolar AS berdampak terhadap seluruh lapisan masyarakat, baik orang kaya yang tinggal di kota maupun masyarakat desa.
Mengutip data Bloomberg, Selasa (19/5/2026), sekitar pukul 11.29 WIB, rupiah merosot ke level Rp17.727 dari posisi penutupan kemarin Rp 17.668 per dolar AS. Rupiah pagi tadi di buka di posisi Rp 17.679 per dolar AS.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyampaikan, pelemahan rupiah akan menaikkan harga barang yang komponennya dari impor, seperti handphone, kendaraan bermotor, televisi, hingga mesin cuci.
Baca juga: Siang Ini, Rupiah Terjun ke Level Rp17.727 per Dolar AS
Barang-barang tersebut, digunakan oleh orang kaya maupun masyarakat di desa.
Selain itu, bahan bakar minyak (BBM) dan LPG masih dipenuhi dari impor untuk kebutuhan nasional.
"Lalu juga pupuk di sentra pertanian akan terpengaruh harganya kalau rupiah makin lama makin lemah. Itu semua tinggal menunggu waktu saja, sampai harganya akan menekan masyarakat di pedesaan," ujar Bhima.
Selain harga barang yang naik, kata Bhima, industri yang bahan bakunya didapat dari impor, akan menekan produksinya dan akhirnya terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Bisa terjadi PHK massal dari pelemahan rupiah, dan desa akan dibanjiri oleh mereka jadi korban PHK di perkotaan. Kembali ke desa tapi dalam posisi tidak bekerja dan tidak berpenghasilan, ini akan menjadi beban desa," paparnya.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi menyampaikan, saat ini ketergantungan Indonesia terhadap produk impor masih sangat tinggi, seperti kedelai yang 80 persen dari impor, kemudian gandum 100 persen impor, bawang putih 100 persen impor, BBM 60 persen impir.
"Gas elpiji 80 persen impor, sampai aspal untuk bikin jalan 90 persen impir. Jadi kalau rupiah remuk versus dolar AS, rakyat kecil di kampung-kampung pun ikut mendelik! Karena impor untuk membelinya pakai devisa, alias dolar AS. Untuk produk impor sudah pasti sangat terpengaruh oleh kurs dolar AS," papar Tulus.
Menurutnya, jika dolar AS makin melonjak, maka biaya impor akan naik, baik yang ditanggung oleh swasta atau negara.
Jika harga minyak mentah terus melangit, dan kurs dolar AS terus melangit juga, Tulus menyebut, pemerintah akan semakin pening karena harus menambah subsidi energi dari APBN.
"Jika harga kedelai di pasar internasional naik, endingnya harga tempe akan naik pula. Artinya rakyat kecil akan makin tercekik dan mendelik," ucapnya.
Selain itu, Tulus memaparkan, saat kurs rupiah makin anjlok akan meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan.