Airlangga: Kerja Sama Danantara-ARM Technology untuk Kejar Target Ekonomi 8 Persen
Arm Limited menjadi pemain kuat di pasar desain chip dunia, mencakup 96 persen teknologi chip otomotif dan 94 persen pasar data center dan AI.
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Arm Limited menjadi pemain kuat di pasar desain chip dunia, mencakup 96 persen teknologi chip otomotif dan 94 persen pasar data center dan AI.
- Kerja sama dengan Danantara akan mencakup program pelatihan terhadap 15.000 insinyur atau ahli dari dalam negeri menguasai sektor semikonduktor.
- Pemerintah telah membuka dialog dengan perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia untuk menyiapkan kurikulum khusus terkait industri semikonduktor.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyatakan, kerja sama antara pemerintah melalui BP Danantara dengan perusahaan raksasa teknologi Inggris, Arm Limited Technology merupakan upaya untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Salah satu sektor yang perlu dikuasai Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen adalah penguasahaan pada teknologi digital canggih.
Arm Limited dipilih karena menjadi pemain kuat di pasar desain chip dunia, mencakup 96 persen teknologi chip otomotif dan 94 persen pasar data center serta kecerdasan buatan (AI) secara global.
"Ini kita punya tugas dari Bapak Presiden untuk mengejar pertumbuhan 8 persen di tahun 2028-2029. Dan untuk itu, salah satu sektor yang bisa menunjang pertumbuhan adalah digitalisasi," kata Airlangga saat ditemui awak media di Menara Batavia, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Presiden Prabowo Subianto menyaksikan langsung penandatanganan kerja sama strategis antara Danantara dan raksasa teknologi asal Inggris, Arm Limited, di London, Senin (23/2/2026) waktu setempat.
Kerja sama ini akan mencakup program pelatihan terhadap 15.000 insinyur atau ahli dari dalam negeri menguasai sektor semikonduktor.
Pasalnya, RI ingin belajar dari pengalaman yang sudah pernah terjadi di tahun 1980.
Baca juga: RI Jajaki Proyek Khusus Senilai 200 Juta Dolar dengan Raksasa Teknologi Inggris
Kata dia, saat itu ada kerja sama antara RI dengan perusahaan Fairchild di bidang semikonduktor, hanya saja kerja sama tersebut tidak melibatkan pelatihan terhadap sumber daya manusia (SDM) dari dalam negeri.
"Kita ingin membangun kemampuan SDM dalam negeri, dan ini untuk tidak mengulangi kesalahan pada tahun 80-an, di mana kita hanya menggantungkan kepada assembling, testing, packaging dari Fairchild. Begitu Fairchild pergi, ya industrinya juga ikut terangkat," kata Airlangga.
"Nah, itu namanya industri yang tidak mempunyai kemampuan teknologi dari dalam negeri," sambung dia.
Padahal menurut mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut, aset paling berharga bagi suatu negara untuk mengembangkan sektor digital ada pada sumber daya manusianya.
Baca juga: Purbaya Ingin Keluarkan PNM dari Danantara untuk Ekosistem Pembiayaan UMKM
"Oleh karena itu, tadi juga beberapa rektor perguruan tinggi, termasuk Pak Rektor ITB ini yang juga dari awal bersama dengan Kantor Kemenko untuk mempersiapkan roadmap maupun ekosistem," ucap Airlangga.
Airlangga juga menegaskan, Indonesia sedang bersungguh-sungguh untuk menjadi negara yang mahir dalam industri digital dan bisa bersaing dengan negara-negara lainnya.
Kata Airlangga, saat ini pemerintah juga telah membuka dialog dengan perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia untuk menyiapkan kurikulum khusus terkait industri semikonduktor.
Baca tanpa iklan