Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ā—

20.000 Pelaut dan 15.000 Penumpang Kapal Pesiar Terjebak di Kawasan Teluk

Sebanyak 20.000 pelaut dan 15.000 penumpang kapal pesiar terjebak di kawasan Teluk dan belum bisa keluar karena perang Iran vs AS-Israel.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Choirul Arifin
zoom-in 20.000 Pelaut dan 15.000 Penumpang Kapal Pesiar Terjebak di Kawasan Teluk
HO/IST/VCG/Global Times
TERJEBAK DI TELUK - Sebuah kapal komersial berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, pada 2 Maret 2026, di tengah ancaman Iran akan membakar kapal yang nekat melintas di Selat Hormuz. Sebanyak 20.000 pelaut dan 15.000 penumpang kapal pesiar terjebak di kawasan Teluk dan belum bisa keluar karena perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 20.000 pelaut dan 15.000 penumpang kapal pesiar terjebak di kawasan Teluk dan belum bisa keluar karena perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
  • Industri maritim telah menetapkan Selat Hormuz, Teluk Oman, dan Teluk Persia sebagai "area operasi perang,"
  • Beberapa perusahaan pelayaran, termasuk raksasa pelayaran asal Denmark, Maersk, telah menangguhkan pemesanan muatan kargo di kawasan Teluk.

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Sebanyak 20.000 pelaut dan 15.000 penumpang kapal pesiar terjebak di kawasan Teluk dan belum bisa keluar karena perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.

Laporan terbaru Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO)Ā  pada 5 Maret seperti dikutip AFP menyebutkan,Ā  IMO telah mencatat tujuh insiden yang melibatkan kapal di wilayah tersebut yang mengakibatkan dua kematian dan tujuh orang lainnya terluka sejak perang meletus pada 28 Februari 2026.

Sekretaris Jenderal regulator pelayaran, Arsenio Dominguez, mengatakan, IMO siap bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk membantu memastikan keselamatan dan kesejahteraan para pelaut yang terkena dampak.

Sektor maritim mengatakan telah menetapkan Selat Hormuz, Teluk Oman, dan Teluk Persia sebagai "area operasi perang", memberikan perlindungan tambahan kepada para pelaut karena perang di Timur Tengah melanda jalur transit energi yang penting ini.

"Di luar dampak ekonomi dari serangan yang mengkhawatirkan ini, ini adalah masalah kemanusiaan. Tidak ada serangan terhadap pelaut yang tidak bersalah yang dapat dibenarkan," kata Dominguez.

ā€œSaya kembali menyerukan kepada semua perusahaan pelayaran untuk berhati-hati sepenuhnya saat beroperasi di wilayah yang terdampak,ā€ ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, yang dilalui seperlima dari minyak mentah dunia dan pasokan gas alam cair dalam jumlah besar.

Baca juga: Kapal Iran Bermuatan Peledak Tabrak Kapal Tanker Minyak di Pelabuhan Irak

Beberapa perusahaan pelayaran, termasuk raksasa pelayaran asal Denmark, Maersk, telah menangguhkan pemesanan muatan kargo di kawasan Teluk.

Para pengusaha maritim dan serikat pekerja yang mewakili para pekerja mereka pada tanggal 5 Maret mengatakan bahwa peningkatan penetapan Selat Hormuz, Teluk Oman, dan Teluk Persia dari "penetapan area berisiko tinggi" tiga hari yang lalu "mencerminkan ancaman yang berkelanjutan dan meningkat terhadap pelaut dan kapal yang beroperasi di wilayah tersebut".

"Ratusan kapal terdampar di Teluk setelah penghentian pergerakan kapal melalui Selat Hormuz, yang menyoroti skala gangguan dan risiko yang dihadapi awak kapal sipil di wilayah tersebut," kata pernyataan bersama dari Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) dan Kelompok Negosiasi Bersama, yang mewakili pengusaha maritim.

Baca juga: Konflik Memanas, Riyadh Jadi Gerbang Keluar Warga Kaya dari Teluk

Sekretaris Jenderal ITF Stephen Cotton mengatakan kepada AFP bahwa setelah 32 tahun terlibat dengan federasi, "ini adalah yang terburuk" yang pernah ia lihat, "karena sangat tidak jelas di tingkat diplomatik".

Meskipun pelaut dapat meminta untuk meninggalkan kapal dan dipulangkan, kenyataannya tidak begitu jelas.

"Anda tidak bisa menekan tombol dan langsung meninggalkan kapal," kata Cotton. "Jika Anda memiliki kru sebanyak 25 orang, Anda mungkin membutuhkan 16 orang untuk menjalankan kapal dengan aman."

Pada tanggal 3 Maret, Garda Revolusi Iran mengklaim "kendali penuh" atas Selat Gibraltar, dengan laporan tentang kapal-kapal tambahan yang diserang.

Perusahaan intelijen energi Kpler mengatakan bahwa transit kapal tanker minyak melalui Selat Gibraltar telah turun 90 persen dari minggu lalu.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas