Stok BBM Cuma Siap 20 Hari, Pakar Desak Pemerintah Sewa Floating Storage
Indonesia dalam kondisi yang tidak diuntungkan apabila tetap ingin mengimpor BBM dari Amerika Serikat.
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Pernyataan Bahlil Lahadalia bahwa stok Bahan Bakar Minyak (BBM) hanya siap untuk 20 hari menimbulkan kepanikan di publik karena ada perang di Teluk.
- Pengamat energi menyarakan Pemerintah agar menyewa floating storage bekerja sama dengan Singapura.
- Indonesia dalam kondisi yang tidak diuntungkan apabila tetap ingin mengimpor BBM dari Amerika Serikat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, stok Bahan Bakar Minyak (BBM) hanya siap untuk 20 hari.
Pernyataan Bahlil tersebut telah menimbulkan kepanikan di publik lantaran kondisi konflik Timur Tengah yang kian tidak menentu.
Menyikapi fenomena tersebut, Pakar Migas Hadi Ismoyo menyatakan, sejatinya pemerintah melakukan mitigasi terhadap storage atau penyimpanan terhadap minyak yang hingga kini masih dalam ambang minim.
Kata dia, beberapa langkah yang bisa diambil pemerintah yakni dengan melakukan sewa floating storage dengan negara tetangga dalam hal ini Singapura.
"Langkah strategis dan perlu didukung. Jangka pendek pemerintah bisa menyewa Floating Storage atau Tank Farm yang ada di Kepri atau Singapore," kata Hadi kepada Tribunnewscom, Jumat (6/3/2026).
Opsi selain menyewa kata Hadi, pemerintah harus membangun kembali Floating Storage atau Tank Farm milik sendiri.
Pasokan BBM yang hanya sekitar 20 hari karena terbatasnya sarana storage minyak mentah yang dimilki RI yang maksimal hanya untuk 25 hari.
"Membangun satu FSO harganya 400 juta USD. Total butuh 22.4 milyar dollar atau membutuhkan 36 bulan EPCI (apabila kontrak). Atua bisa juga Tank Farm yang jauh lebih murah. Namun butuh lahan yang luas dan pengadaannya kadang ruwet dan jadwal tidak pasti," ucap dia.
Baca juga: Panic Buying BBM Terjadi di Jember, Medan, dan Aceh, Dipicu Konflik AS-Iran dan Stok BBM 20 Hari
Hadi juga menjabarkan, pemerintah memilki opsi untuk impor BBM dari negara tetangga dalam hal ini seperti Singapura dan Malaysia.
Kata dia, keputusan impor dari negara tetangga juga minim risiko karena tidak melintasi jalur konflik di Timur Tengah. "Stock BBM di negara tetangga sangat cukup yang siap di beli, asal spec dan harganya cocok," tutur dia.
Hal senada juga disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi yang meminta pemerintah memasukkan Singapura dan Malaysia sebagai opsi impor BBM.
Kata dia, opsi yang saat ini akan diambil pemerintah yakni dengan merencanakan pengalihan impor ke Amerika Serikat adalah suatu opsi yang kurang tepat.
Baca juga: Antrean BBM Mengular di Banyak Daerah, Pertamina Jamin Amankan Pasokan
Pasalnya, Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang juga berkonflik langsung dalam kondisi saat ini.
"Nah, hal yang sama terjadi di Malaysia itu ya. Jadi pilihannya akan lebih tepat mengalihkan atau membeli dari Singapura dan Malaysia daripada ke Amerika itu," kata dia.