Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Perang Berlanjut, Harga Minyak Meroket 20 Persen Tembus 110 Dolar AS

Harga bensin eceran di AS telah melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2024 sejak AS dan sekutunya Israel menyerang Iran.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Perang Berlanjut, Harga Minyak Meroket 20 Persen Tembus 110 Dolar AS
HO/IST/discovery alert
TUTUP KILANG RAS TANURA - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menyebabkan Arab Saudi menghentikan operasi di kilang Ras Tanura yang merupakan kilang terbesar di negara itu dan mengalihkan ekspor minyalnya melalui Pelabuhan Laut Merah. 

 

Ringkasan Berita:
  • Harga minyak melonjak 20 persen hingga menembus 110 dolar AS per barel karena meningkatnya perang Iran memaksa lebih banyak negara besar produsen minyak di Teluk memangkas produksi.
  • Harga minyak jenis Brent melonjak hingga 20 persen menjadi 111,04 dolar AS per barel di pembukaan perdagangan Asia 9 Maret dan West Texas Intermediate terkerek 22 persen.
  • Harga bensin eceran di AS telah melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2024.

 

TRIBUNNEWS.COM, SINGAPORA - Harga minyak dunia melonjak hingga 20 persen menjadi 100 dolar AS per barel karena semakin banyak produsen utama Timur Tengah membatasi produksi.

Selat Hormuz tetap hampir tertutup bagi kapal-kapal yang melintas dan Amerika Serikat mengancam akan memperdalam konflik yang telah mengacaukan pasar energi.

Harga minyak jenis Brent melonjak hingga 20 persen menjadi 111,04 dolar AS per barel saat perdagangan di Asia dibuka pada 9 Maret, sementara West Texas Intermediate melonjak hingga 22 persen.

Uni Emirat Arab dan Kuwait telah mulai mengurangi produksi karena Selat Hormuz tetap tertutup dan penyimpanan dengan cepat penuh. Irak mulai menutup produksi minggu lalu.

Presiden AS Donald Trump menepis lonjakan harga minyak terkait perang sebagai "harga kecil yang harus dibayar" untuk menghilangkan ancaman program nuklir Iran.

Rekomendasi Untuk Anda

“Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keselamatan dan perdamaian AS dan dunia. HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR BERBEDA!” tulisnya pada 8 Maret di platform Truth Social miliknya.

Baca juga: Spanyol Kecam Serangan ke Iran: Trump Ancam Putus Hubungan Dagang

Perang di Timur Tengah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran lebih dari seminggu yang lalu. Terhentinya pengiriman minyak melalui Hormuz dan serangan terhadap infrastruktur energi telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan gas alam.

Selat Hormuz selama ini melayani 20 persen atau seperlima pasokan minyak dunia.

“Harga minyak 100 dolar AS mungkin hanya target harga jangka pendek yang akan menuju ke level yang lebih tinggi seiring berlanjutnya konflik, produksi minyak dikurangi karena penyimpanan minyak penuh akibat kapal tanker tidak dapat memuat minyak,” kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Belasan negara yang kini terseret ke dalam konflik Amerika-Israel Vs Iran  memicu kekhawatiran akan krisis inflasi.

Harga bensin eceran di AS telah melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2024, menimbulkan tantangan signifikan bagi Trump dan partainya dalam pemilihan paruh waktu AS pada akhir tahun 2026.

Baca juga: Mantan Kepala Biro NHK Jepang di Indonesia Ditahan di Teheran Iran

Namun Trump tetap melanjutkan perang. Dalam sebuah unggahan media sosial pada awal 7 Maret, mengatakan Amerika Serikat akan mempertimbangkan untuk menyerang daerah dan kelompok orang di Iran yang sebelumnya tidak dianggap sebagai target. 

Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersumpah untuk tidak mundur.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas