Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

PBB Khawatir Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Mengerek Harga Pangan

UNCTAD PBB merilis analisis, yang menyatakan penutupan Selat Hormuz dikhawatirkan dapat meningkatkan biaya pangan

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sanusi
zoom-in PBB Khawatir Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Mengerek Harga Pangan
HO/IST/VCG/Global Times
Sebuah kapal komersial berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, pada 2 Maret 2026, di tengah ancaman Iran akan membakar kapal yang nekat melintas di Selat Hormuz. 

 

TRIBUNNEWS.COM - United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) PBB merilis analisis, yang menyatakan penutupan Selat Hormuz dikhawatirkan dapat meningkatkan biaya pangan. Pelayaran melalui Selat Hormuz sebagian besar terhenti sejak AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran.

“Biaya energi, pupuk, dan transportasi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pangan dan memperburuk tekanan biaya hidup, khususnya bagi kelompok yang paling rentan,” tulis UNCTAD dilansir dari Aljazeera dalam laporan baru yang diterbitkan pada Selasa (10/3/2026).

Baca juga: DPR Minta Pemerintah Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ketahanan Pangan Nasional

Menurut UNCTAD, 38 persen minyak mentah dunia melewati Selat Hormuz, begitu juga 29 persen LPG dan 19 persen LNG.

Sepertiga pupuk yang diangkut melalui jalur laut global juga melewati Selat Hormuz

Menurut UNCTAD, dampak paling besar kemungkinan akan dirasakan di Asia, yang menjadi tujuan bagi 84 persen produk yang dikirim melalui Selat Hormuz.

Rantai Pasok

Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi ketahanan pangan di kawasan Teluk, saat ini menghadapi risiko gangguan rantai pasok terhadap sekitar 30 juta ton gandum impor per tahun. 

Rekomendasi Untuk Anda

Gangguan ini tidak hanya mengancam pasokan pangan esensial, tetapi juga mendorong harga komoditas di negara-negara seperti Iran mencapai rekor tertinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Sebagian besar kapal yang membawa gandum dan pasokan pangan untuk penduduk kawasan Teluk harus melewati Selat Hormuz. Data dari perusahaan analisis komoditas Kpler menunjukkan dari 30 juta ton gandum yang diimpor ke kawasan tahun lalu, sekitar 14 juta ton masuk ke Iran, dengan mayoritas melalui jalur ini.

Negara lain di kawasan juga sangat bergantung pada Hormuz. Arab Saudi mengimpor sekitar 40 persen gandum dan biji minyak melalui pelabuhan Teluk timurnya. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) mengirim hingga 90 persen barang tersebut melalui pelabuhan Jebel Ali di Dubai. Jebel Ali berperan penting dalam menangani pangan kontainer untuk setidaknya empat negara—UEA, Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar—melayani kebutuhan sekitar 45–50 juta orang.


Pengetatan

Sebelumnya, sejumlah negara mulai melakukan pengetatan akibat krisis energi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Seperti diketahui, memanasnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mendorong kenaikan harga minyak mentah.  

Harga minyak mentah sempat melonjak melewati 100 dolar AS per barel. Lonjakan tersebut dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global di tengah konflik yang meluas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. 

Pemangkasan produksi oleh Arab Saudi dan sejumlah produsen minyak lainnya juga memperkuat kekhawatiran pasar bahwa pasokan energi global akan semakin ketat.

Berikut sejumlah negara yang melakukan pengetatan terkait naiknya harga minyak:

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas