Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Industri Tambang Mulai Menjajaki Integrasi Energi Terbarukan dalam Operasional

Integrasi PLTS, sistem penyimpanan energi baterai, serta elektrifikasi armada mulai dipertimbangkan sebagai solusi untuk menekan emisi.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Industri Tambang Mulai Menjajaki Integrasi Energi Terbarukan dalam Operasional
HO/IST
GREEN MINING - Ketua Komite Komunikasi & Government Relations APBI-ICMA - Jefferson Kuesar (dua dari kanan) memberikan penjelasan seputar akselerasi penerapan green mining di sektor pertambangan Indonesia, baru-baru ini di Jakarta. Green mining membutuhkan pendekatan sistem energi yang dirancang secara menyeluruh sesuai karakteristik operasional setiap site tambang. (HO/IST) 

Ringkasan Berita:
  • Industri tambang Indonesia mulai mengarah pada praktik green mining seiring dorongan dekarbonisasi global dan target penurunan emisi nasional 31,89 persen pada 2030.
  • Tantangan utama sektor ini adalah ketergantungan pada bahan bakar fosil, terutama untuk pembangkit listrik di lokasi tambang.
  • Integrasi PLTS, sistem penyimpanan energi baterai, serta elektrifikasi armada mulai dipertimbangkan sebagai solusi untuk menekan emisi.

 

TRIBUNNEWS.COM - Transformasi menuju praktik green mining semakin mendapat perhatian di sektor pertambangan Indonesia.

Dorongan dekarbonisasi global serta komitmen nasional untuk menurunkan emisi membuat pelaku industri mulai mempertimbangkan integrasi solusi energi yang lebih rendah karbon dalam operasional tambang.

Sebagai salah satu sektor strategis, pertambangan menyumbang sekitar 10,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Baca juga: Fokus Bisnis Energi Bersih, Kementerian ESDM Tegaskan Komitmen Pencampuran Bioetanol

Namun, sektor ini juga berada dalam fase transisi seiring target nasional penurunan emisi sebesar 31,89 persen pada 2030 serta meningkatnya standar keberlanjutan dalam rantai pasok global.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi industri tambang adalah ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar fosil, terutama untuk pembangkit listrik di lokasi tambang terpencil serta mobilitas armada operasional.

Rekomendasi Untuk Anda

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan emisi, tetapi juga memengaruhi efisiensi biaya dan ketahanan pasokan energi di lapangan.

Secara global, sektor pertambangan diperkirakan menyumbang sekitar 4–7 persen emisi gas rumah kaca dunia.

Asosiasi industri menilai bahwa perusahaan pertambangan di Indonesia mulai menunjukkan kesiapan untuk mengadopsi praktik green mining, meskipun implementasinya perlu dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi operasional masing-masing lokasi tambang.

“Transformasi menuju green mining kini semakin dipandang sebagai kebutuhan bisnis jangka panjang. Tantangannya adalah memastikan implementasi dapat berjalan lebih cepat dan lebih luas, dengan dukungan ekosistem teknologi yang semakin siap serta kolaborasi yang kuat antara pelaku industri, pemerintah, dan penyedia solusi,” ujar Aditya Pratama, Ketua Komite Komunikasi & Government Relations APBI-ICMA, Kamis (12/3/2026)

Dalam implementasinya, green mining membutuhkan pendekatan sistem energi yang dirancang secara menyeluruh sesuai karakteristik operasional setiap site tambang.

Integrasi energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, serta teknologi pemantauan operasional mulai dipertimbangkan sebagai cara untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi.

Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area tambang dinilai semakin relevan karena dapat mengurangi ketergantungan pada diesel, meningkatkan efisiensi biaya operasional, serta memperkuat ketahanan pasokan energi di lokasi terpencil.

Dukungan sistem penyimpanan energi baterai juga memungkinkan pemanfaatan energi surya menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan operasional tambang yang dinamis.

“Strategi green mining yang efektif perlu mempertimbangkan karakter operasional tambang secara menyeluruh. Integrasi antara energi surya, penyimpanan energi, dan sistem monitoring menjadi penting agar perusahaan dapat menekan emisi sekaligus menjaga efisiensi serta kontinuitas operasi,” ujar Jefferson Kuesar, CEO SUN Energy.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas