Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Negara yang Memiliki Cadangan Minyak Darurat Terbesar Dunia

Blokade Iran atas Selat Hormuz menyebabkan banyak negara menggunakan cadangan minyak darurat mereka.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Negara yang Memiliki Cadangan Minyak Darurat Terbesar Dunia
IST/discovery alert
KILANG MINYAK - Pekan lalu, Arab Saudi menghentikan operasi di kilang Ras Tanura, kilang terbesar di negara itu, dan berupaya mengalihkan kiriman minyak ekspornya melalui Pelabuhan Laut Merah untuk diekspor setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran. 
Ringkasan Berita:
  • Cadangan minyak negara-negara di dunia kini menjadi andalan untuk bisa bertahan di tengah perang Iran Vs AS-Israel.
  • Blokade Iran atas Selat Hormuz menyebabkan banyak negara menggunakan cadangan minyak darurat mereka.
  • Selain China, negara di dunia banyak yang memiliki cadangan minyak darurat.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Blokade Iran atas Selat Hormuz menyebabkan banyak negara menggunakan cadangan minyak darurat mereka.

Indonesia juga ikut terdampak.

Rabu 4 Maret lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini berada dalam kondisi aman.

Menurut Bahlil, kapasitas daya tampung cadangan BBM Indonesia selama ini masih terbatas, yakni maksimal sekitar 25 hari.

Pada 10 Maret, Bahlil menyampaikan subsidi BBM bisa bertahan sampai Lebaran.

"Insya Allah tidak ada kenaikan apa-apa," tegas Bahlil.

PENUTUPAN SELAT HORMUZ - Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz dan menyiarkan peringatan radio kepada kapal tanker “Dilarang melintas
PENUTUPAN SELAT HORMUZ - Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz dan menyiarkan peringatan radio kepada kapal tanker “Dilarang melintas" pada 1 Maret 2026. Selat Hormuz menjadi krusial karena jalur ekspor paling vital dunia, bahkan disebut sebagai "Nadi Energi Dunia". TRIBUNNEWS/AKBAR PERMANA (Tribunnews.com)

Lalu negara mana di dunia yang cadangan minyaknya besar?

Sejak perang Iran Vs AS-Israel meletus 28 Februari lalu,  32 negara mulai mengeluarkan cadangan minyak mereka untuk menstabilkan harga minyak yang kian mahal.

Rekomendasi Untuk Anda

Anggota Badan Energi Internasional (IEA), yang merupakan gabungan negara pengguna energi terbesar di dunia setuju Rabu pekan lalu untuk melepas ratusan juta barel minyak dari cadangan strategis mereka.

Namun langkah itu tidak membuat harga minyak turun, melainkan sebaliknya.

Akhir pekan lalu harga minyak mentah Brent naik hingga sekitar 100 dolar per barel.

Sementara itu Iran meningkatkan serangan di dekat Selat Hormuz, juga terhadap sejumlah kapal angkutan komersial termasuk tanker minyak dan kapal kargo.

Pemerintah Iran telah memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu.

Padahal lewat selat tersebut negara-negara Teluk mengekspor seperlima minyak mentah dan gas, terutama ke Asia.

Akibatnya lalulintas kapal kargo dan tanker terhenti.

Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait dan Uni Emirat Arab juga mengurangi produksi karena penyimpanan domestik mereka sendiri sudah mendekati kapasitas penuh, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas pasar energi.

Apa itu cadangan minyak strategis?

Cadangan minyak strategis adalah simpanan minyak mentah yang dikuasai pemerintah dan digunakan jika pasokan tidak berjalan lancar atau untuk keadaan darurat pasar.

Penyimpanan modern pertama dibuat oleh AS tahun 1975, setelah embargo minyak Arab menunjukkan bagaimana rentannya suplai energi global.

Keterkejutan itu melipatgandakan harga minyak dan menyulut kurangnya bahan bakar di negara-negara Barat dan menyingkap kerentanan stabilitas ekonomi jika suplai menurun.

Cadangan minyak terbesar

Sekarang, puluhan negara, terutama anggota IEA, memiliki simpanan strategis sebagai bagian sistem terkoordinasi untuk menjadi keamanan energi.

Anggota IEA memiliki cadangan lebih dari 1,2 miliar barel, ditambah dengan sekitar 600 juta barel yang dimiliki sektor industri.

Diperkirakan, Cina memiliki penyimpanan darurat terbesar, diikuti AS.

Perusahaan analisa energi dan angkutan, Vortexa memperkirakan Cina memiliki simpanan 1,3 miliar barel.

Cadangan tersebut diduga mampu menopang perekonomian Cina sampai tiga atau empat bulan.

Simpanan AS yang berjumlah 415 juta barrel, ditambah 439 juta barel yang dimiliki swasta, setara dengan suplai darurat selama lebih dari 40 hari.

Seberapa banyak minyak akan dilepas anggota IEA?

IEA menyatakan anggotanya akan melepas 400 juta barel minyak dari cadangan mereka. Untuk perbandingan, setelah Rusia menyerang Ukraina tahun 2022, minyak yang dilepas 182 juta barrel.

IEA menyatakan stok akan dilepas secara berkala, tergantung situasi di setiap negara. AS memimpin dengan melepas 172 juta barel mulai pekan depan, dan akan berlangsung selama sekitar 120 hari.

Jepang mengatakan akan melepas 80 juta barel.

Kontributor lainnya adalah Jerman, Australia, Prancis, Korea Selatan dan Inggris.

IEA diperkirakan akan menyimpan sekitar 90 hari cadangan darurat impor minyak bersih.

Pengekspor seperti Kanada, Meksiko dan Norwegia tidak memiliki cadangan darurat, namun dapat membuka cadangan komersial selama krisis.

Cina, yang bukan anggota penuh IEA tidak memberikan pengumuman serupa, melainkan memprioritaskan keamanan suplai domestik dengan menghentikan ekspor bahan bakar olahan.

Rencana ekonomi lima tahun terakhir di Beijing bahkan menetapkan penambahan cadangan minyak strategis.

Apakah simpanan minyak membantu menurunkan harga?

Analis industri minyak mengatakan, suntikan dari persediaan strategis dapat meringankan tekanan pada pasar minyak, namun jarang dapat menurunkan harga secara dramatis atau untuk waktu lama.

Langkah ini terutama berfungsi sebagai tanda persatuan dan suplai tambahan, dan meyakinkan pedagang bahwa pemerintahnya bersedia turun tangan jika kekurangan di pasar semakin menajam.

IEA mengungkap, pelepasan simpanan hanya menutupi sekitar tiga atau empat pekan kurangnya pasokan minyak dari daerah Teluk.

Jadi walalupun harga turun, diperkirakan efeknya tidak terlalu nampak, karena volume minyak yang dilepas kecil dibanding dengan 100 juta barrel per hari di pasar minyak global.

Analis David Morrison dari perusaan pialang Inggris Trade Nation menilai, harga minyak akan terus meningkat jika Hormuz tetap diblokade untuk waktu lama.

Hamad Hussain, ahli ekonomi iklim dan komoditi mengemukakan, "Walaupun IEA memiliki stok untuk digunakan setelah pelepasan ini, konflik berkepanjangan dapat menyebabkan kerugian lebih besar daripada total cadangan yang dipegang langsung oleh anggota IEA."

Sumber: DW/Tribunnews.com

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas