Trump Klaim Sudah Menangkan Perang di Iran, tapi Ingin Kemenangan yang Lebih Besar
Trump mengklaim AS telah menghancurkan angkatan laut, angkatan udara, pertahanan udara, sistem radar, dan kepemimpinan Iran.
Penulis:
Nuryanti
Editor:
Whiesa Daniswara
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim AS "sudah memenangkan" perang di Iran.
Klaim tersebut disampaikan Donald Trump kepada Newsmax dalam sebuah wawancara pada Kamis (30/4/2026).
Trump juga mengklaim AS telah menghancurkan angkatan laut, angkatan udara, pertahanan udara, sistem radar, dan kepemimpinan Iran.
Namun, Trump mengatakan dia ingin mengamankan kemenangan dengan "margin yang lebih besar".
“Kita sudah menang, tetapi saya ingin menang dengan margin yang lebih besar."
"Kita telah menghancurkan angkatan laut mereka, menghancurkan angkatan udara mereka, menghancurkan semua – jika Anda melihat peralatan anti-pesawat mereka, peralatan radar mereka, kepemimpinan mereka. Kepemimpinan mereka hancur. Kita telah menghancurkan semuanya,” kata Trump.
Meskipun ia mengatakan Iran menderita kerugian besar, Trump menekankan bahwa Teheran akan membutuhkan waktu dua dekade untuk pulih dari perang.
“Jika kita pergi sekarang, akan membutuhkan waktu 20 tahun bagi mereka untuk membangun kembali, jika mereka memang bisa membangun kembali,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Terlepas dari itu, Trump bersikeras bahwa ini "tidak cukup baik" dan harus ada jaminan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.
“Tetapi sebenarnya ini tidak cukup baik,” katanya.
“Kita harus memiliki jaminan bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," tegas Trump.
Baca juga: Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara untuk Lawan Drone Pengintai, Situasi Kembali Normal
Iran Bersumpah Beri Respons Menyakitkan
Iran mengatakan akan membalas dengan "serangan panjang dan menyakitkan" terhadap posisi AS di seluruh wilayah Teluk jika Washington memperbarui serangan, dan telah menegaskan kembali klaimnya atas Selat Hormuz, yang mempersulit rencana Amerika Serikat untuk membentuk koalisi guna membuka kembali jalur air tersebut.
Dua bulan setelah perang AS-Israel melawan Iran dimulai, selat tersebut tetap tertutup, menghambat 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Hal itu menyebabkan harga energi global melonjak dan meningkatkan kekhawatiran tentang risiko penurunan ekonomi.
Upaya yang dipimpin Pakistan untuk menyelesaikan konflik telah menemui jalan buntu.
Baca tanpa iklan