Geopolitik Memanas, Prabowo Genjot Energi Terbarukan dan Elektrifikasi
Prabowo percepat transisi energi: target surya 100 MW, dorong kendaraan listrik, dan perkuat ketahanan energi nasional di tengah krisis global
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Prabowo Subianto menegaskan percepatan transformasi energi nasional di tengah ketidakpastian global, termasuk dorongan elektrifikasi kendaraan
- Pemerintah menargetkan pengembangan energi surya 100 MW serta memperkuat energi terbarukan seperti geotermal dan bioenergi
- Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kemandirian dan ketahanan energi nasional
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi sektor energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global, khususnya akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada keamanan pasokan energi dunia.
Demikian pula elektrifikasi kendaraan bermotor akan dipercepat pula termasuk penggunaan dan pembuatan motor listrik.
"Pemerintah juga mendorong percepatan elektrifikasi kendaraan. Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 140 juta sepeda motor, yang mayoritas masih menggunakan bahan bakar bensin," papar Presiden Subianto dalam forum bisnis Jepang-Indonesia di Imperial Hotel Tokyo, Senin (30/3/2026) malam waktu setempat.
Presiden juga menekankan transformasi menuju mobil listrik dan motor listrik
Kendaraan tersebut diproyeksikan akan berlangsung cepat dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari strategi besar menuju energi bersih.
Baca juga: Eddy Soeparno Dukung Langkah Prabowo Subianto Percepat Transisi Energi
"Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah pengembangan energi surya dengan target kapasitas 100 megawatt dalam tiga tahun ke depan," kata Prabowo.
Program ini menjadi bagian dari strategi besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi impor.
Antisipasi Ketidakpastian Global
Pemerintah menilai situasi global saat ini menunjukkan bahwa keamanan energi tidak lagi dapat bergantung sepenuhnya pada pasokan luar negeri.
“Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah menjadi pelajaran penting bahwa kita harus segera mengamankan sumber energi sendiri,” demikian ditegaskan dalam pernyataan terkait kebijakan energi nasional.
Langkah percepatan pengembangan energi hijau dan terbarukan dipandang sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pasokan energi Indonesia.
Fokus pada Energi Terbarukan
Selain energi surya, Indonesia juga menargetkan penguatan sektor renewal energy yang lain.
"Geotermal (panas bumi) — berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Demikian pula energi terbarukan lainnya sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi."
Di sisi lain, Indonesia tetap mempertahankan batubara sebagai opsi terakhir (last resort) untuk menjamin ketersediaan energi dalam kondisi darurat.
Inovasi Bahan Bakar Alternatif
Transformasi energi juga dilakukan melalui pengembangan bahan bakar alternatif berbasis sumber daya domestik, antara lain Biodiesel dari minyak kelapa sawit yang saat ini telah mencapai campuran 40–50 persen.
Baca tanpa iklan