Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Soal Kenaikan Harga Plastik Imbas Perang, Industri Minta Insentif Pajak dan Masyarakat Berhemat

Industri meminta insentif pemerintah seperti penundaan pajak, pengurangan PPh, hingga tax holiday untuk menjaga produksi.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Soal Kenaikan Harga Plastik Imbas Perang, Industri Minta Insentif Pajak dan Masyarakat Berhemat
Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
BAHAN BAKU PLASTIK LANGKA - Pedagang plastik kemasan di Pasar Baung, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Industri plastik Indonesia mencari pasokan bahan baku dari luar kawasan Timur Tengah untuk mengatasi kelangkaan pasokan yang saat ini terjadi dan memicu lonjakan harga jual plastik kemasan. 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga bahan baku plastik akibat gejolak global menekan industri hilir dan berpotensi mendorong harga barang konsumsi.
  • Industri meminta insentif pemerintah seperti penundaan pajak, pengurangan PPh, hingga tax holiday untuk menjaga produksi.
  • Masyarakat diimbau berhemat penggunaan plastik karena biaya kemasan ikut meningkatkan harga produk.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan harga bahan baku plastik yang terjadi belakangan ini mulai menekan industri hilir sekaligus berpotensi berdampak pada kenaikan harga barang konsumsi di masyarakat.

Pelaku industri meminta dukungan kebijakan dari pemerintah, sementara konsumen diimbau untuk mulai berhemat dalam penggunaan produk berbahan plastik.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chavelier mengatakan kondisi ketidakpastian global, termasuk eskalasi geopolitik di Timur Tengah, sangat memengaruhi rantai pasok dan harga bahan baku plastik. 

Baca juga: Industri Plastik Tertekan, Aphindo Sebut Produksi Tergantung Stok Hingga Ancaman PHK Menguat

Menurut dia, kenaikan harga plastik tidak hanya dirasakan oleh industri, tetapi juga akan membebani masyarakat sebagai konsumen akhir.

"Lakukanlah penghematan-penghematan penggunaan kantong plastik atau kita kembali seperti dulu lagi. Jadi seperti botol aqua jangan dibuang kita pakai untuk yang lain," tutur Henry kepada Tribunnews.com, Minggu (5/4/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Aphindo menyampaikan, setiap kemasan plastik yang digunakan pelaku usaha memiliki biaya tersendiri yang turut menyumbang harga jual produk. 

Oleh karena itu, pengurangan penggunaan plastik dinilai dapat membantu menekan pengeluaran masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti.

"Kalau kita beli minuman dengan kemasan itu, kemasannya sendiri sudah ada cost. Terus kita beli makanan yang kemasan dibuat dari plastik, ini juga sudah ada cost untuk menambah harga pangan atau minuman yang dijual," jelasnya.

Henry juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap perkembangan situasi global yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi.

"Kita harus mengencangkan ikat pinggang karena kita tidak tahu ke depannya bagaimana," ucap Henry saat dihubungi.

Di sisi lain, Aphindo meminta pemerintah segera mengeluarkan kebijakan yang dapat meringankan beban industri, baik di sektor hulu maupun hilir.

Dukungan tersebut dinilai sangat penting agar rantai produksi tetap berjalan dan harga produk tidak semakin melonjak.

"Untuk pemerintah tolong berikanlah kebijakan kepada industri, baik hulu maupun hilir maupun industri-industri lainnya," ungkap Henry.

Aphindo mengusulkan agar pemerintah tidak menambah hambatan tarif bagi industri, melainkan memberikan insentif seperti penundaan pajak, pengurangan pajak penghasilan (PPh) badan, hingga kebijakan tax holiday dalam situasi yang dianggap force majeure.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas