Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Dunia Usaha Lesu, Banyak Perusahaan Ogah Buka Lowongan, Sudah Ada 8.389 Pekerja Terkena PHK 

Pemerintah dorong pelatihan vokasi dan strategi ketahanan pangan-energi untuk hadapi dampak global.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Dunia Usaha Lesu, Banyak Perusahaan Ogah Buka Lowongan, Sudah Ada 8.389 Pekerja Terkena PHK 
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
JOB FAIR - Pencari kerja selesai melamar pekerjaan pada gelaran job fair. Sejak Januari-Maret 2026, Kemnaker mencatat total pekerja terkena PHK mencapai 8.389 orang, yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). 

Ringkasan Berita:
  • Survei menunjukkan 67 persen perusahaan tidak membuka rekrutmen dan 50 persen menahan ekspansi.
  • Sepanjang Jananuari–Maret 2026, sebanyak 8.389 pekerja terkena PHK, terbanyak di Jawa Barat.
  • Pemerintah dorong pelatihan vokasi dan strategi ketahanan pangan-energi untuk hadapi dampak global.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mayoritas perusahaan di Indonesia pada saat ini enggan membuka lowongan atau rekrutmen di tengah ketidakpastian ekonomi global yang menekan dunia usaha nasional.

Hal tersebut diketahui dari survei yang dilakukan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) baru-baru ini.

"Hasil survei Apindo, saat ini 67 persen perusahaan itu tidak berniat melakukan rekrutmen baru," kata Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, dikutip Kamis (16/4/2026).

Baca juga: Bayang-Bayang PHK Massal Menghantui Buruh Indonesia Imbas Perang AS-Israel VS Iran

Selain ogah membuka lowongan, Bob menyebut, perusahaan atau industri nasional menahan langkah ekspansinya dalam jangka menengah.

"50 persen perusahaan tidak punya rencana untuk ekspansi dalam lima tahun ke depan," ucap Bob.

Rekomendasi Untuk Anda

Bob menyebut, kondisi ini harus menjadi pertahian pemerintah secara serius, sebab industri manufaktur di Indonesia dan negara lainnya sebagai tulang punggung penyerapan tenaga kerja.

"Pengalaman dari negara-negara maju, Jepang, Korea, Taiwan, China, mereka kontribusi sektor manufakturnya lebih dari 30 persen sewaktu mereka menikmati pertumbuhan yang tinggi 8 persen," katanya.

Ia menyampaikan, jika pemerintah ingin mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen, pemerintah perlu menciptakan investasi di Indonesia kondusif.

"Buruh tidak sejahtera, pengusahanya terjepit, dan investor di sektor manufaktur malah meninggalkan Indonesia terutama di padat karya. Dulu yang namanya Tangerang itu padat sekali, Cimanggis, Cisalak ya, kalau jam kerja pulang itu penuh, sekarang kosong," papar Azam.

Terjadi di Seluruh Negara

Menyikapi banyaknya perusahaan di RI tak melakukan rekrutmen, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dipengaruhi dinamika global yang berdampak pada dunia usaha.

"Kami sadar bahwa kondisi dunia saat ini, tidak hanya Indonesia, memang penuh ketidakpastian. Tentu pemerintah harus menyikapi ini, dengan melihat bersama-sama, tidak hanya Kemnaker, ada Menko Perekonomian, tentunya Menteri Perindustrian," kata Yassierli dikutip dari Kontan.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat program pelatihan vokasi dan magang nasional untuk menjaga keterhubungan antara tenaga kerja dan kebutuhan industri.

“Inilah yang kita dorong melalui program pelatihan vokasi nasional. Kita melihat pentingnya digital skill, dan juga program magang yang diharapkan bisa menjadi bagian dari solusi untuk menjembatani kebutuhan industri dengan keterampilan tenaga kerja,” tuturnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas