Dunia Usaha Lesu, Banyak Perusahaan Ogah Buka Lowongan, Sudah Ada 8.389 Pekerja Terkena PHK
Pemerintah dorong pelatihan vokasi dan strategi ketahanan pangan-energi untuk hadapi dampak global.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mayoritas perusahaan di Indonesia pada saat ini enggan membuka lowongan atau rekrutmen di tengah ketidakpastian ekonomi global yang menekan dunia usaha nasional.
Hal tersebut diketahui dari survei yang dilakukan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) baru-baru ini.
"Hasil survei Apindo, saat ini 67 persen perusahaan itu tidak berniat melakukan rekrutmen baru," kata Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, dikutip Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Bayang-Bayang PHK Massal Menghantui Buruh Indonesia Imbas Perang AS-Israel VS Iran
Selain ogah membuka lowongan, Bob menyebut, perusahaan atau industri nasional menahan langkah ekspansinya dalam jangka menengah.
"50 persen perusahaan tidak punya rencana untuk ekspansi dalam lima tahun ke depan," ucap Bob.
Bob menyebut, kondisi ini harus menjadi pertahian pemerintah secara serius, sebab industri manufaktur di Indonesia dan negara lainnya sebagai tulang punggung penyerapan tenaga kerja.
"Pengalaman dari negara-negara maju, Jepang, Korea, Taiwan, China, mereka kontribusi sektor manufakturnya lebih dari 30 persen sewaktu mereka menikmati pertumbuhan yang tinggi 8 persen," katanya.
Ia menyampaikan, jika pemerintah ingin mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen, pemerintah perlu menciptakan investasi di Indonesia kondusif.
"Buruh tidak sejahtera, pengusahanya terjepit, dan investor di sektor manufaktur malah meninggalkan Indonesia terutama di padat karya. Dulu yang namanya Tangerang itu padat sekali, Cimanggis, Cisalak ya, kalau jam kerja pulang itu penuh, sekarang kosong," papar Azam.
Terjadi di Seluruh Negara
Menyikapi banyaknya perusahaan di RI tak melakukan rekrutmen, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dipengaruhi dinamika global yang berdampak pada dunia usaha.
"Kami sadar bahwa kondisi dunia saat ini, tidak hanya Indonesia, memang penuh ketidakpastian. Tentu pemerintah harus menyikapi ini, dengan melihat bersama-sama, tidak hanya Kemnaker, ada Menko Perekonomian, tentunya Menteri Perindustrian," kata Yassierli dikutip dari Kontan.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat program pelatihan vokasi dan magang nasional untuk menjaga keterhubungan antara tenaga kerja dan kebutuhan industri.
“Inilah yang kita dorong melalui program pelatihan vokasi nasional. Kita melihat pentingnya digital skill, dan juga program magang yang diharapkan bisa menjadi bagian dari solusi untuk menjembatani kebutuhan industri dengan keterampilan tenaga kerja,” tuturnya.
Baca tanpa iklan