Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

BI Tahan Suku Bunga, HSBC Sebut Rupiah Bisa Lebih Tertekan Jika Dipangkas

BI menahan suku bunga di 4,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah. Langkah ini dinilai tepat oleh HSBC

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Lita Febriani
Editor: Sanusi
zoom-in BI Tahan Suku Bunga, HSBC Sebut Rupiah Bisa Lebih Tertekan Jika Dipangkas
Tribunnews.com/Lita Febri
EKONOMI INDONESIA - (Tangkapan layar) Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Jakarta, Kamis (23/4/2026). 
Ringkasan Berita:
  • BI mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal.
  • HSBC menilai langkah ini tepat, dengan tantangan utama Indonesia terletak pada kemampuan menarik aliran modal guna membiayai defisit transaksi berjalan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal. 

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 April 2026, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari mengatakan, keputusan BI menahan suku bunga sudah tepat untuk mencegah tekanan yang lebih dalam terhadap mata uang.

Baca juga: HSBC: Ketidakpastian Global Tak Pengaruhi Prospek Ekuitas, Indonesia dalam Tekanan Jangka Pendek

"Seandainya BI memangkas suku bunga kemarin, mata uang akan jauh lebih lemah hari ini. Jadi dari perspektif itu, penting bagi BI untuk setidaknya menjaga suku bunga tetap," tutur Pranjul dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Pada Kamis (23/4/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar tembus Rp 17.311,50. Pranjul menilai, pergerakan rupiah pada dasarnya mencerminkan kondisi fundamental eksternal Indonesia, terutama terkait keseimbangan transaksi berjalan dan aliran modal asing.

Menurutnya, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia saat ini masih tergolong rendah. Pada tahun lalu, CAD tercatat hanya sekitar 0,1 persen dari produk domestik bruto (PDB), jauh lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mencapai 2,5 persen.

Rekomendasi Untuk Anda

"Dulu pernah mencapai 2,5 persen, tapi sekarang sangat kecil. Kemungkinan akan naik karena guncangan energi ke angka sekitar 1 persen dari PDB. Tapi 1 persen PDB tidaklah sangat lebar," jelasnya.

Meski demikian, tantangan utama bagi Indonesia bukan semata pada besaran defisit, melainkan kemampuan untuk menarik aliran modal masuk guna membiayai kebutuhan tersebut.

"Yang penting bagi Indonesia adalah mampu menarik cukup aliran modal masuk untuk mendanai defisit transaksi berjalan ini dan itulah tantangan besarnya," sebut Pranjul.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas