Rupiah Hari Ini Diramal Ambles ke Posisi Rp17.580 per Dolar AS, Bakal Catat Sejarah Baru Pelemahan?
Pelemahan rupiah saat ini telah mencatat sejarah terlemah, karena sebelumnya tidak pernah menembus Rp17.500 per dolar AS.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Rupiah berpotensi kembali melemah setelah ditutup di level Rp17.528 per dolar AS, menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.
- Pelemahan dipicu memanasnya konflik AS-Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian global.
- Bank Indonesia menyiapkan intervensi di pasar valas dan menilai tekanan rupiah bersifat musiman sehingga diperkirakan akan mereda.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (13/5/2026) berpotensi kembali melemah.
Pada Selasa (12/5/2026), mata uang rupiah ditutup melemah 114 poin ke level Rp17.528 dari penutupan hari sebelumnya di posisi Rp17.414 per dolar AS.
Pelemahan rupiah saat ini telah mencatat sejarah terlemah, karena sebelumnya tidak pernah menembus Rp17.500 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Tertekan, Pelemahan Mata Uang Asia Dipicu Kemenangan Opini AS atas Iran
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran tampak rapuh.
Sehingga, ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat dan akhirnya berdampak terhadap melonjaknya harga minyak dunia.
"WTI Crude Oil saat ini di 101,98 dolar AS per barel, Brent Crude Oil di 107,69 dolar AS per barel. Hal tersebut akan berdampak terhadap pelemahan rupiah hari ini," kata Ibrahim.
Ia menyampaikan, pergerakan rupiah hari ini berpotensi ditutup melemah dengan rentang Rp17.520-Rp17.580 per dolar AS.
Intervensi BI
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menjelaskan, tekanan rupiah datang dari sentimen ketegangan di Timur Tengah, yang mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global.
Dari domestik, kata Destry, meningkatnya kebutuhan dolar AS secara musiman seperti untuk pembayaran utang luar negeri dan pembayaran deviden, serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik
"BI akan terus berkomitmen utk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," papar Destry.
Ia menyampaikan, BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik, yang tercermin dari inflows, khususnya ke Pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp 61,6 triliun.
Kemudian, ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga cukup tinggi dengan pertumbuhan DPK valas di akhir Maret mencapai 10,9 persen ytd.
"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar Rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," kata Destry.