Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Transformasi Sangkar Burung Eank Solo, Manfaatkan Barang Limbah Jadi Berkah

Memanfaatkan limbah jadi berkah, Sangkar Burung Eank Solo bukti UMKM kreatif bisa bersaing dengan wirausaha lainnya

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Transformasi Sangkar Burung Eank Solo, Manfaatkan Barang Limbah Jadi Berkah
Instagram @sangkar_aquarium_paralon
LIMBAH JADI BERKAH - Produk snagkar burung dari limbah pipa bekas dari Eank Solo 

“Saya langsung kepikiran, kalau bahannya sekuat itu kenapa nggak dicoba buat sangkar burung,” katanya sambil tersenyum.

Kebetulan, lingkungan tempat tinggalnya di Mojosongo memang dikenal sebagai sentra pengrajin sangkar berbahan kayu dan bambu.

Namun menurut Eko, bahan konvensional memiliki sejumlah kekurangan.

Ia mengaku sering mendengar keluhan pembeli soal sangkar kayu yang mudah lapuk, lembap, hingga rawan rusak setelah dipakai dalam waktu tertentu.

Dari situ, ia mulai mencoba membuat alternatif sangkar berbahan paralon bekas.

Pemilik Eank Solo, Eko Alif Muryanto memamerkan sangkar burung berbahan limbah paralon
Pemilik Eank Solo, Eko Alif Muryanto memamerkan sangkar burung berbahan limbah paralon (Tribunnews.com/Chrysnha Pradipha)

Pada awal merintis usaha, Eko mengaku tidak mudah meyakinkan pembeli.

Banyak orang meragukan sangkar berbahan pipa bekas bisa memiliki kualitas bagus.

Rekomendasi Untuk Anda

Bahkan, ada yang menganggap produknya aneh karena berbeda dari sangkar pada umumnya.

“Awalnya banyak yang belum yakin. Karena biasanya sangkar identik dengan bambu atau kayu,” ujarnya.

Meski begitu, Eko tetap mencoba memasarkan produknya secara perlahan.

Ia mulai menawarkan sangkar buatannya ke pasar burung dan komunitas penghobi burung di Solo.

Seiring waktu, pembeli mulai datang kembali setelah mencoba kualitas sangkar buatannya.

Menurut Eko, ketahanan produk menjadi salah satu alasan pelanggan bertahan.

“Kalau bambu kadang cepat rusak atau dimakan rayap. Kalau paralon lebih awet,” katanya.

Perkembangan usahanya mulai terasa setelah bergabung dengan Rumah BUMN Solo pada 2017.

Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas